Oleh: Rieska Wulandari*)

SAYA nggak suka anarki. Tapi pelajaran dari aksi kemarin: selama ini banyak pejabat hanya pintar memberikan sambutan, padahal rakyat butuh yang jadi tempat sambatan, eh malah jadi tempat sambitan.

Apakah kondisi amok massa kemarin itu sesuatu yang baru? Tidak. Itu adalah bagian dari generational toxic cycle bangsa ini. Ketika pejabat sewenang-wenang dan masyarakat yang paling lugu dan sabar pun, bisa jadi massa yang paling ganas.

Pejabat Indonesia gagal memahami ini. Padahal banyak pejabat asing dari zaman Hindia Belanda yang melihat fenomena ini. Bahkan memasukkan kata “amok” dalam khazanah bahasa mereka.

James Cook, seorang penjelajah atau kartografer Inggris, mengamati suku Melayu dan menggambarkan orang-orang yang terkena “amok”. Mereka melakukan kekerasan tanpa sebab yang jelas, membunuh dan melukai secara membabi buta pada tahun 1770.

Jacob Albert van Middelkoop, seorang pegawai VOC yang tiba di Jawa pada tahun 1793, mengumpulkan abstrak hukum yang berlaku di Jawa sebelum kedatangan Aji Saka. Ia menyebutkan bahwa “amok” boleh dilakukan asal seseorang yang mengamuk itu bersedia membayar denda atas setiap nyawa yang gugur.

Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda asal Inggris (1811–1816) dan juga Letnan Gubernur Jendral Bengkulu (1818–1824), menulis tentang “amok” sebagai strategi bertahan terakhir dalam pertempuran yang menjumpai kekalahan tak terelakkan. Ini dituliskannya dalam buku The History of Java (1817).

W. F. Theunissen, seorang psikiater Belanda, memprediksi peningkatan jumlah pribumi yang mengalami gangguan jiwa karena bersentuhan dengan peradaban Eropa dan mempelajari kasus “amok” di Hindia Belanda.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *