BUMN, Kerugian dan Toxicity yang Menjalar di Dalamnya

Oleh: Rieska Wulandari *)

PERTANYAAN terbesar publik di Indonesia adalah: Bagaimana perusahaan-perusahaan milik negara yang harusnya membawa kemaslahatan penduduknya malah mengalami kerugian?

Dan yang paling menjengkelkan adalah kereta cepat Whoosh. Seharusnya Whoosh melayani trayek Jakarta-Surabaya, sehingga bisa mengangkut 160 jutaan penduduk Jawa dan turis-turis yang ingin menikmati pulau Jawa. Tapi kenyataannya hanya “wahana odong-odong” yang trayeknya dari Jakarta nggak sampai di Kota Bandung, melainkan hanya di pinggiran kotanya saja.

Kerugian perusahaan-perusahaan milik negara ini aneh, mengingat awak BUMN juga mendapat pendidikan bagus di luar negeri. Lalu apa yang menyebabkan kerugian ini berlarut larut? Jangan-jangan memang ada toxicity yang menjangkit di dalamnya.

Berikut ini perusahaan-perusahaan BUMN yang dilaporkan mengalami kerugian:

PLN

PLN mengalami kerugian finansial yang signifikan. Berdasarkan laporan terbaru, laba PLN turun drastis dari Rp 22 triliun pada 2023 menjadi hanya Rp 17,7 triliun pada 2024. Penurunannya sebesar Rp 4,3 triliun.

Lebih parah lagi, PLN memiliki utang yang luar biasa, yaitu Rp 711,2 triliun pada 2024, dengan kenaikan utang sebesar Rp 56,2 triliun dalam setahun.

Penyebab Kerugian PLN

Oversupply Listrik. PLN mengalami kerugian akibat oversupply listrik yang terus menerus. Hal ini disebabkan perencanaan pemerintah yang terlalu ambisius dalam menambah pembangkit listrik, sehingga produksi listrik melebihi kebutuhan.

Biaya Produksi Tinggi. Biaya produksi listrik yang tinggi karena pelemahan kurs rupiah terhadap dolar dan kenaikan harga bahan bakar fosil juga menjadi penyebab kerugian PLN.

Ketergantungan pada APBN. PLN semakin bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena pendapatan usahanya tidak cukup untuk menutupi biaya operasional.

Dugaan Pemborosan Anggaran

Selain itu, terdapat dugaan pemborosan anggaran di PLN, termasuk perjalanan dinas Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo ke luar negeri yang dibiayai perusahaan.

PT GARUDA INDONESIA

PT Garuda Indonesia mengalami kerugian signifikan dalam beberapa periode terakhir.
Pada Kuartal I 2025, maskapai penerbangan nasional ini mengalami kerugian Rp1,2 triliun, melebihi kerugian pada tahun buku 2024 yang mencapai Rp1,15 triliun.

Kerugian pada Semester Pertama 2024 sebesar US$101,66 juta atau sekitar Rp1,54 triliun.

PT KRAKATAU STEEL

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *