Penulis: Rieska Wulandari
Frankfurt, Wartaeropa.com – Gender tidak berpengaruh pada pengidap kasus kesehatan mental. Lelaki dan perempuan memiliki persentase hampir sama, masing-masing 13,5 persen dan 15 persen.
Hal itu diungkapkan Sven Juda, alumnus Maastricht University untuk Master Psikologi dan sarjana Psikologi dan Ilmu Saraf (Neurosains) dan co-founder Kesmenesia Belanda.
“Dengan perbedaan presentasi yang tipis saja, artinya kedua gender sama-sama punya kemungkinan masalah mental namun selama ini mitos seolah menyebut perempuan lebih rentan,” ujarnya.
Pernyataannya ini muncul dalam diskusi publik bertajuk “Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21” yang digelar secara daring dari Frankfurt, oleh Ruanita Indonesia di bawah Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, pada Minggu 25 Januari 2026.
Stigma maskulinitas
Sven menuturkan, selama ini kesehatan mental laki-laki kerap dibungkus stigma maskulinitas. Laki-laki dituntut untuk kuat, tidak rapuh, dan sulit menunjukkan perasaannya.
Norma gender tersebut berkontribusi pada rendahnya keterbukaan serta kecenderungan mencari bantuan profesional.
“Tidak betul bahwa perempuan lebih sering kena mental dibanding pria, terlihat dari persentasenya yang tak jauh berbeda dan di Indonesia sendiri, lelaki masih merasa tabu dalam membicarakan emosinya apalagi untuk berbicara langsung dengan psikolog,” tuturnya.
Sven juga mengatakan, alokasi dana untuk kesehatan mental juga sangat rendah yaitu hanya 1,4 persen dari dana kesehatah secara total.
Kendati demikian, tidak semua masalah harus dibawa ke psikolog apalagi mendapat pengobatan. Yang terpenting adalah mengenali tanda-tanda gangguan mental di dalam dinamika keluarga.
Misalnya, pada perempuan tanda gangguan mental lebih sering muncul dalam bentuk depresi, bipolar dan gangguan makan. Sedangkan pada laki-laki lebih sering berupa autisme, ADHD dan gangguan perilaku.
“Jadi kedua gender bisa sama-sama memahami, maka kemungkinan yang lebih buruk seperti bunuh diri, bisa dihindari,” ujarnya.
Lelaki mudah bunuh diri
Sven mengungkapkan, meski kasus bunuh diri di Indonesia 850 persen lebih rendah dari angka global, namun kasus bunuh diri pada lelaki dua kali lebih tinggi dibanding wanita.
Mitos “laki-laki harus kuat” menjadi penghalang bagi laki-laki untuk mencari bantuan psikologis.
Kecanduan internet jadi pemicu
Sementara itu Fransiska Hapsari, co-founder Kesmenesia Jerman mengatakan, dunia maya dan gawai digital bisa menjadi salah satu pemicu meningkatnya kesehatan mental.

