“Pada saat yang sama, era digital menciptakan tekanan baru berupa perbandingan sosial, perfeksionisme, hingga koneksi tanpa jeda yang memengaruhi kesejahteraan emosional,” tuturnya.
Saat ini, banyak kasus kecanduan internet, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.
Oleh karena itu perlu sering-sering melakukan detoksifikasi internet, digital declutter atau puasa gawai.
Apabila perlu terkoneksi dengan internet, pastikan hanya melakukan hal yang penting saja, misalnya bekerja atau mencari data.
Selain itu, menurut Fransiska, internet bisa dipakai sebagai alat untuk membantu memonitor kesehatan mental.
Gunakan aplikasi-aplikasi yang bertujuan memantau mood dan perubahan emosi, “journaling”, “guided meditation”, dan menemukan komunitas “like minded”, misalnya komunitas postpartum, komunitas grieving (kehilangan orang tersayang).
Aplikasi-aplikasi tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman dan mengatasi kesedihan, atau untuk mengikuti workshop dan pelatihan berbasis kesehatan mental.
Kolaborasi dengan KJRI Frankfurt
Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi antara Kesmenesia dan KJRI Frankfurt, serta terbuka bagi siapa pun yang tertarik pada isu kesehatan mental.
Acting Konsul Jenderal KJRI Frankfurt, Toary Worang, memberikan pengantar mengenai pentingnya meningkatkan literasi kesehatan mental dan memahami hambatan bagi laki-laki dalam mengekspresikan pengalaman emosional.
Acara dipandu oleh Rasyid H. Wicaksono, Perawat Terdaftar (Registered Nurse) di Jerman.
Sesi pertama membahas pengaruh budaya dan konstruksi gender terhadap kesehatan mental laki-laki.
Sedangkan sesi materi kedua menjelaskan tantangan kesehatan mental pada era digital, mulai dari pengaruh media sosial terhadap perbandingan sosial hingga ekspektasi performa.
Selain menyoroti risiko, narasumber juga menggambarkan potensi teknologi dalam memperluas akses informasi dan layanan dukungan.
Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif yang membuka ruang refleksi bagi peserta untuk berbagi pandangan, pengalaman, serta kebutuhan dukungan seputar isu kesehatan mental laki-laki.
Diskusi online ini tidak direkam, agar siapa saja merasa nyaman untuk berbagi dukungan sosial dan psikologis.
Sven mengharapkan, melalui pendekatan kolektif dan kolaboratif, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan memahami kesehatan mental dan gender dalam konteks budaya dan perkembangan teknologi.***
Keterangan: gambar ilustrasi hasil AI, oleh Rieska Wulandari

