Pada kesempatan itu, Dubes RI juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Ekonomi Kreatif RI atas dukungan berkelanjutan dalam promosi film nasional di kancah internasional.
Film karya sutradara muda Yandy Laurens ini telah meraih 13 nominasi dan 10 penghargaan, serta dinilai memiliki kekuatan cerita yang universal dan relevan lintas budaya.
Acara pembukaan turut dihadiri para Duta Besar dan Kepala Perwakilan negara-negara Asia Pasifik, antara lain Australia, India, Jepang, Pakistan, Filipina, dan Thailand.
Hadir pula delegasi dari University of Applied Sciences and Arts Northwestern Switzerland (FHNW) yang dipimpin Dr. Teresa L. Freiburghaus bersama para dosen dan mahasiswa, mencerminkan peran penting dunia akademik dalam mendorong dialog lintas budaya dan kreativitas generasi muda.
Sebagai penanda dimulainya rangkaian APFF 2026, Dubes Ngurah Swajaya mengundang para Duta Besar dan Kepala Perwakilan yang hadir untuk naik ke panggung memainkan alat musik tradisional angklung, membawakan lagu Ode to Joy karya Ludwig van Beethoven.
Penampilan tersebut dipandu oleh Stella, diaspora muda Indonesia sekaligus Wakil Direktur Angklung Padasuka, yang secara khusus hadir untuk memimpin pertunjukan.
“Permainan angklung yang dimainkan secara kolektif ini menjadi simbol harmoni, kebersamaan, dan kerja sama—nilai-nilai yang sejalan dengan semangat Asia Pacific Film Festival,” ujar Dahlia Kusuma Dewi, Kepala Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Bern.
Penonton terpukau
Selama dua jam pemutaran, penonton terpukau hingga akhir film. Banyak di antara mereka menyampaikan kesan mendalam dan merasa tergugah oleh makna cerita SORE, yang dinilai merefleksikan realitas kehidupan.
Pemutaran film Indonesia ini juga dilengkapi sajian kuliner khas Nusantara seperti lemper, arem-arem, dadar gulung, martabak telur, serta minuman tradisional Indonesia, yang semakin memperkaya pengalaman budaya bagi para hadirin.
Asia Pacific Film Festival 2026 berlangsung pada 9–26 Februari 2026, menampilkan film-film pilihan dari Indonesia, Australia, kawasan Pasifik, Vietnam, Republik Korea, Filipina, Thailand, India, Pakistan, dan Jepang.
Festival ini menghadirkan beragam kisah, mulai dari refleksi kehidupan, isu-isu aktual, hingga narasi kuat tentang sejarah, identitas, dan budaya.
Penyelenggaraan APFF 2026 kembali menegaskan pentingnya diplomasi soft power dalam membangun persahabatan antarbangsa, khususnya melalui promosi film dan pertukaran budaya.***
Sumber: Siaran Pers KBRI Bern

