Penulis: Rieska Wulandari
Baden-Württemberg, Jerman – SELAMA beberapa dekade, individu neurodivergen dengan indikasi klinis seperti autisme, ADHD, dan disleksia, kerap dianggap sebagai “red flag” dalam proses rekrutmen.
Bahkan 63 persen pemberi kerja memandang neurodiversitas sebagai tanda bahaya sehingga kandidat tidak direkrut.
Padahal, berbagai riset menunjukkan sebaliknya, keterlibatan karyawan neurodivergen justru meningkatkan inovasi, produktivitas, dan budaya perusahaan.
Hal ini disampaikan Lovely Christi Zega, psikolog asal Indonesia yang bermukim di Jerman, lulusan Master of Science Psychologie, dalam webinar bertajuk “Neurodiversitas – Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak”, yang digelar Ruanita, di Jerman, Sabtu 14 Februari 2026.

Lovely mengungkapkan, 47 persen individu neurodivergen merasa tidak dapat atau tidak seharusnya mengungkapkan kondisi mereka kepada manajer perekrutan.
Separuh orang dewasa neurodivergen pernah mengalami diskriminasi dalam proses rekrutmen (Zurich, Inggris, 2024).
Sebanyak 21 persen mengaku pernah ditertawakan karena kondisi mereka, dan 16 persen mengalami pembatalan tawaran kerja.
Bahkan, 54 persen responden menilai proses rekrutmen dirancang untuk “menyingkirkan” kandidat neurodivergen alih-alih menilai kemampuan mereka secara objektif.
Retensi lebih tinggi
Berdasarkan laporan Deloitte (2017), karyawan neurodivergen 30 persen lebih produktif ketika ditempatkan pada peran yang tepat.
Perusahaan yang merekrut talenta neurodivergen juga mencatat tingkat retensi hingga 90 persen.
Sejak 2015, program perekrutan neurodiversitas di perusahaan Fortune 500 meningkat 50 persen.
Laporan Autism at Work Program Overview dari SAP SE (2017) menyebutkan, pekerja neurodivergen melakukan kesalahan 50 persen lebih sedikit dalam pengujian SAP.
Keberagaman neurologis di sektor teknologi diperkirakan mencapai 10–15 persen, dan perusahaan teknologi melaporkan peningkatan profitabilitas hingga 2,6 kali lipat ketika memiliki tenaga kerja dengan keberagaman neurologis.
Riset Hewlett Packard Enterprise (2017) juga menunjukkan, tim dengan kombinasi neurodiversitas 30 persen lebih produktif dibandingkan tim neurotipikal serta menghasilkan lebih sedikit kesalahan.
Dampak pada kinerja perusahaan

