Neuroinklusi, Strategi Cerdas yang Bisa Bikin Perusahaan Melesat

Menurut studi McKinsey & Company (2015), organisasi dengan tingkat keragaman lebih tinggi memiliki peluang 35 persen lebih besar untuk berkinerja lebih baik dibandingkan perusahaan sejenis.

Sementara itu, laporan City & Guilds melalui Neurodiversity Index (2025) menyebutkan 89 persen organisasi yang menerapkan praktik neuroinklusi melaporkan peningkatan moral dan keterlibatan karyawan.

Studi Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD, 2024) menemukan bahwa 63 persen perusahaan dengan praktik perekrutan neuroinklusi mengalami peningkatan kesejahteraan karyawan, 55 persen merasakan budaya perusahaan yang lebih kuat, dan 53 persen melaporkan manajemen SDM yang lebih efektif.

Survei TextHelp (2024) bahkan mencatat, perusahaan dengan budaya neuroinklusi memperoleh pendapatan 28 persen lebih tinggi, laba bersih dua kali lipat, serta margin keuntungan 30 persen lebih besar.

Mengubah cara pandang HR

Neuroinklusi ajak perusahaan menghargai keberagaman cara berpikir. (Foto: Ist)

Konsep neuroinklusi mengajak perusahaan menghargai keberagaman cara berpikir sebagai strategi menggabungkan dua kekuatan kognitif manusia: neurotipikal dan neurodivergen.

Kombinasi ini terbukti menciptakan lingkungan kerja yang lebih adaptif, empatik, dan inovatif.

Individu neurodivergen kerap memiliki perspektif unik, kemampuan berpikir lateral, tingkat fokus tinggi, keahlian teknis kuat, serta ketelitian luar biasa dalam mendeteksi kesalahan.

Keunggulan ini menjadi aset penting dalam penyelesaian masalah kompleks dan pengembangan inovasi.

Di tengah pesatnya perkembangan AI, robotika, dan teknologi digital, perusahaan justru menghadapi paradoks: teknologi tidak memiliki empati dan emosi, sementara manusia tetap menghargai orisinalitas serta kreativitas yang lahir dari keberagaman cara berpikir.

“Neuroinklusi membuka peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan karyawan yang sangat berbakat dan setia,” ujar Lovely.

Dengan kata lain, neuroinklusi bukan sekadar isu keberagaman, melainkan strategi bisnis berbasis data yang terbukti meningkatkan daya saing dan profitabilitas perusahaan di era modern.

Tentang Ruanita

Ruanita – Indonesia (Rumah Aman Kita) adalah komunitas dan platform yang berfokus pada pemberdayaan perempuan Indonesia di mancanegara.
Program-programnya meliputi diskusi parenting, kewirausahaan, dan menjaga data pribadi.
Ruanita bertujuan menjadi tempat aman untuk berbagi dan berkembang bagi perempuan Indonesia.***

Daftar pustaka:
Austin, R. D., & Pisano, G. P. (2017). Neurodiversity as a competitive advantage. Harvard Business Review, 95(3), 96–103. Harvard Business Review
Deloitte (2018), The Dandelion Principle: Redesigning work for the inclusion of neurodiversity. Deloitte Insights.
Tentang penurunan kesalahan dalam pengujian SAP
Daftar pustaka:
SAP. (2019). Autism at Work program overview. SAP SE.
Austin, R. D., & Pisano, G. P. (2017). Neurodiversity as a competitive advantage. Harvard Business Review, 95(3), 96–103.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *