Penulis: Rieska Wulandari*)
FENOMENA alam gerhana bulan total atau yang kerap disebut Blood Moon terjadi pada 3 Maret 2026. Secara astronomi, warna merah pada bulan saat gerhana hanyalah fenomena optik akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi, yang dikenal sebagai hamburan Rayleigh.
Namun dalam berbagai peradaban kuno, fenomena langit ini sering dianggap sebagai pertanda khusus, bahkan dikaitkan dengan kematian para pemimpin tiran atau penguasa yang lalim.
Dalam mitologi dan catatan sejarah kuno, sains modern memang menegaskan bahwa keterkaitan tersebut hanyalah kebetulan astronomi.
Kendati demikian, sejumlah peristiwa sejarah secara kebetulan beririsan dengan fenomena gerhana bulan. Salah satunya, kematian Raja Herodes I dari Yudea.
Sejarawan Romawi-Yahudi Flavius Josephus mencatat bahwa Herodes Agung, yang dikenal sebagai penguasa brutal, meninggal tidak lama setelah terjadinya gerhana bulan.
Karena reputasinya yang kejam, masyarakat pada masa itu menafsirkan kematiannya yang bertepatan dengan fenomena langit tersebut sebagai tanda berakhirnya masa kegelapan.

Herodes dikenal sebagai raja yang paranoid. Ia merasa terancam oleh kabar kelahiran “Raja orang Yahudi”, yaitu Yesus Kristus, yang disampaikan oleh orang-orang Majus dari Timur.
Khawatir tahtanya direbut, Herodes memutuskan untuk menyingkirkan calon raja tersebut.
Setelah mendengar penjelasan para Majus tentang fenomena langit yang menandai kelahiran bayi itu, Herodes memerintahkan pembunuhan seluruh bayi laki-laki berusia dua tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya.
Peristiwa ini dikenal sebagai Massacre of the Innocents. Kisah tersebut dicatat dalam Injil Matius (Matius 2:16–18).
Selain itu, Herodes juga dikenal mengeksekusi anggota keluarganya sendiri karena paranoia politik, termasuk istrinya Mariamne, ibu mertuanya Alexandra, saudara iparnya Aristobulus III, serta beberapa putranya seperti Antipater, Alexander, dan Aristobulus IV.
Bayi Yesus sendiri selamat. Menurut tradisi Kristen, Yusuf mendapat petunjuk dalam mimpi untuk melarikan diri ke Mesir bersama keluarganya sebelum pasukan Herodes tiba. Mereka tinggal di Mesir hingga Herodes wafat.
Karena itu, dalam sejumlah narasi sejarah dan tradisi keagamaan, fenomena Blood Moon sering dikaitkan dengan berakhirnya kekuasaan seorang pemimpin tiran.
Kepercayaan serupa juga ditemukan dalam tradisi Babilonia kuno. Sekitar 4.000 tahun lalu, masyarakat Babilonia meyakini bahwa gerhana bulan merupakan pertanda kematian seorang raja.

