Untuk mengelabui nasib, mereka melakukan ritual dengan menunjuk “raja pengganti” sementara selama gerhana berlangsung.
Sosok tersebut diyakini akan menanggung “murka para dewa”, sehingga raja yang sesungguhnya selamat.
Ribuan tahun kemudian, menjelang fenomena Blood Moon 2026, dunia kembali mencatat sebuah peristiwa besar.
Pada 28 Februari 2026, tiga hari sebelum gerhana bulan total, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam sebuah serangan yang disebut sebagai decapitation strike yang menyasar kantornya di Teheran.
Di kalangan militer Amerika Serikat, operasi tersebut disebut “Epic Fury”, sementara di Israel dikenal dengan nama “Roar of the Lion.”
Selama lebih dari tiga dekade berkuasa, Khamenei kerap dianggap sebagai pemimpin otoriter oleh sejumlah pengamat internasional, organisasi hak asasi manusia, dan kelompok oposisi domestik.
Ia dinilai memegang kendali politik, militer, dan yudisial yang sangat kuat di Iran. Di bawah kepemimpinannya, aparat keamanan seperti Islamic Revolutionary Guard Corps digunakan untuk menekan berbagai demonstrasi, termasuk protes Mahsa Amini protests pada 2022 dan demonstrasi kenaikan harga bahan bakar pada 2019.
Iran juga sering dikritik karena tingginya angka eksekusi mati, termasuk terhadap tahanan politik dan pelaku di bawah umur.
Berbagai laporan internasional menyoroti praktik penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang, hingga penghilangan paksa.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memiliki otoritas akhir atas kebijakan strategis negara tanpa mekanisme pemilihan langsung oleh rakyat.
Pemerintahannya juga dituduh memberlakukan sensor media yang ketat, pemutusan internet saat kerusuhan, serta diskriminasi terhadap sejumlah minoritas agama dan etnis.
Kematiannya menandai berakhirnya masa kekuasaan selama 37 tahun yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai era tirani yang panjang.
Reaksi masyarakat Iran pun terbelah. Sebagian warga yang merasa tertindas oleh rezimnya menyambut kabar tersebut sebagai bentuk pembebasan.
Laporan menyebutkan adanya warga yang turun ke jalan di Teheran untuk merayakan peristiwa itu. Namun di lain pihak, para pendukungnya berduka dan meyakini bahwa pemimpin mereka wafat sebagai seorang syahid.
Apakah kematian seorang pemimpin yang terjadi menjelang fenomena Blood Moon ini sekadar kebetulan sejarah, ataukah akan dikenang sebagai pengulangan simbolik seperti kisah kematian Herodes dua milenium lalu, biarlah waktu yang menjawabnya.***
*)Jurnalis Terakreditasi, tinggal di Milan, Italia.

