Usai salat, suasana berubah menjadi lebih cair. Senyum merekah di mana-mana. Orang-orang saling menyapa, berjabat tangan, bahkan berpelukan. Ada yang bertemu teman lama, ada yang berkenalan untuk pertama kalinya. Namun semuanya terasa seperti keluarga.
Panitia kemudian membagikan lontong sayur dan minuman. Aroma makanan khas Lebaran itu seketika membawa ingatan pulang, ke dapur rumah, ke meja makan keluarga, ke suasana pagi yang biasanya diisi tawa dan cerita.

Banyak yang memilih untuk tidak segera pulang. Di luar gedung, di bawah sinar matahari yang jarang muncul dalam beberapa hari terakhir, mereka duduk, berdiri, dan bercengkerama lebih lama. Anak-anak bermain, orang dewasa berbagi kisah. Waktu seolah berjalan lebih pelan, memberi ruang bagi kebersamaan untuk benar-benar dirasakan.
Menariknya, tidak semua yang hadir tinggal di Belanda. Beberapa adalah pelancong yang kebetulan merayakan Idulfitri di Amsterdam. Namun di tengah keramaian itu, tak ada yang merasa asing. Semua menyatu dalam satu suasana yang sama.
Bagi mereka yang tak bisa mudik, hari itu menjadi pengganti yang berarti. Lebaran kali ini mungkin tanpa kampung halaman, tanpa keluarga inti. Namun, dalam kebersamaan itu, mereka menemukan sesuatu yang tak kalah penting: rasa memiliki.
Di Amsterdam, Idulfitri tahun ini seolah mengingatkan bahwa rumah tidak selalu soal tempat. Rumah bisa hadir dalam pertemuan, dalam senyuman, dan dalam kebersamaan, di mana pun kita berada.

