Penulis: Yuke Mayaratih
Amsterdam, Wartaeropa.com – Jumat pagi di Amsterdam Belanda, 20 Maret 2026. Udara terasa dingin menusuk. Namun di salah satu gedung di sudut kota “Venesia dari Utara” itu, terasa ada kehangatan.
Sekitar 2.000 diaspora Indonesia di Negeri Kincir Angin berkumpul, melepas rindu dalam satu momen bernama Idulfitri.
Setelah sebulan menjalani ibadah puasa Ramadan, mereka merayakan kemenangan dengan menunaikan salat Idulfitri dalam suasana penuh kebersamaan, di Rhone Events & Congres Centrum Amsterdam.
Perayaan Idulfitri tahun ini menjadi ruang temu yang menghadirkan rasa pulang bagi diaspora Indonesia di Belanda.
Para jemaah salat ied itu datang dari berbagai kota dengan latar belakang dan cerita hidup yang berbeda. Namun ada satu kesamaan dari mereka: kerinduan akan suasana Lebaran di Tanah Air.
Sejak pukul 08.00 waktu setempat, gema takbir menggema di ruangan seluas 800-an meter persegi itu. Bertindak sebagai khatib, Ustad Abi Quhafah. Sedangkan imam salat ied dipimpin Prof. Sanuri.
Diawali salat ied dua rakaat, ribuan jemaah itu khusyuk mendengarkan khutbah ied yang disampaikan Ustad Abi Quhafah, yang membahas tentang kembali ke fitrah dan kesucian diri, setelah satu bulan berperang melawan hawa nafsu.
Menurut pengamatan Kabar Belanda, di luar gedung suhu mencapai 8 derajat celcius. Terasa membekukan, karena adanya hembusan angin yang dingin menusuk tulang.
Kendati demikian, jemaah terus berdatangan. Mereka tak hanya hadir untuk melaksanakan salat sunnah Idulfitri, tapi juga untuk bertemu dengan teman sebangsa setanah air, untuk merajut kenangan, dan menuntaskan dahaga rasa ingin pulang.
Tahun ini, karena kapasitas gedung yang cukup menampung ribua jemaah, salat Idulfitri dilaksanakan hanya dalam satu sesi.
Usai salat, suasana menjadi lebih cair. Senyum merekah, sapaan dan jabat tangan terjadi di mana-mana. Mereka bersalaman dan berangkulan untuk bermaaf-maafan.

