Idulfitri di Amsterdam, Pengobat Rindu Tanah Air bagi 2.000 Diaspora Indonesia di Belanda

Ada yang bertemu teman lama, ada pula yang berkenalan untuk pertama kalinya. Namun ujung-ujungnya, semuanya terasa seperti satu keluarga.

“Aroma Tanah Air” dalam hidangan khas Lebaran

Khutbah Ied. (Foto: Wahyu Koen)

Panitia kemudian membagikan hidangan khas Lebaran Tanah Air: lontong sayur. Aroma hidangan khas itu seketika membangkitkan kenangan akan kampung halaman. Pagi itu, suasana Lebaran dipenuhi cerita, canda dan tawa.

Saking asyiknya mereka, banyak di antara diaspora tidak segera pulang. Di luar gedung, di bawah sinar matahari yang jarang muncul dalam beberapa hari terakhir, mereka duduk-duduk dan bercengkerama.

Sementara orang dewasa berbagi kisah, anak-anak bermain di halaman. Waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi kebersamaan untuk benar-benar dinikmati.

Uniknya, tak semua hadirin menetap di Belanda. Banyak di antara mereka adalah pelancong yang merayakan Idulfitri di Amsterdam. Namun, di tengah keramaian itu, tak ada yang merasa asing satu sama lain. Mereka dipersatukan oleh ukhuwah Islamiyah.

Bagi mereka yang tidak mudik ke Tanah Air, momen ini menjadi momen yang sangat bermakna. Mereka berlebaran tidak di kampung halaman dan tidak berkumpul bersama keluarga inti. Tetapi dalam kebersamaan tersebut, mereka menemukan sesuatu yang tak kalah penting: rasa memiliki.

Di Amsterdam, Idulfitri tahun ini seolah menegaskan bahwa rumah tidak selalu soal tempat. Rumah dapat hadir dalam pertemuan, senyuman, dan kebersamaan di mana pun kita berada.***

Foto-foto: Wahyu Koen

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *