Sinkretisme yang Harmonis Keunikan sejarah Larantuka terletak pada proses “pertemuan” budaya ini.
Saat misionaris Dominikan tiba dan memperkenalkan patung tersebut sebagai Maria Dolorosa (Bunda Yang Bersedih), iman lama masyarakat tidak terhapus.
Sebaliknya, nilai-nilai pengorbanan dan kasih ibu yang ada pada Tanu Wujo menemukan bentuk sempurnanya dalam diri Bunda Maria.
“Tuan Ma menjadi jembatan dari dua kepercayaan dan tradisi yang berbeda,” tulis kurator dalam pengantarnya.
Hal ini memuncak pada tradisi Semana Santa yang telah berlangsung selama 516 tahun—sebuah perayaan yang oleh fotografer senior Bea Wiharta disebut sebagai momen yang sangat “Wonderful!”.
Jembatan Keberagaman Pameran foto ini bukan sekadar dokumentasi visual atas ritual keagamaan, melainkan sebuah pernyataan budaya.
Melalui karya-karya yang ditampilkan, pengunjung diajak melihat bagaimana penghormatan kepada sosok Ibu Agung telah mengakar kuat dalam kesadaran kolektif masyarakat Flores Timur, melintasi batas zaman dan dogma.
Pameran ini diharapkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan keragaman budaya dan kepercayaan di Indonesia, mengingatkan kita bahwa di bawah perbedaan tradisi, terdapat nilai kemanusiaan dan kasih yang universal.***

