Harmoni Nusantara di Paris: Ketika Gamelan dan Tari Menyatukan Dua Dunia

Paris, Wartaeropa.com – Malam itu, ruang Théâtre Koltès di Université Paris Nanterre seolah menjelma menjadi panggung kecil Nusantara.

Denting gamelan mengalun lembut, menguat, dan mengisi setiap sudut ruangan dengan irama yang menghipnotis.

Di atas panggung, gerak luwes penari Bali dan Jawa berpadu dalam harmoni yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga terasa hangat di hati.

Inilah suasana pertunjukan “Gamelan et Danses de Bali et de Java”, yang digelar di Paris Prancis, pada 9 April lalu.

Sekitar 350 penonton—mulai dari akademisi, seniman, pelajar, hingga masyarakat umum Prancis—larut dalam pengalaman budaya yang kaya dan berbeda.

Beberapa tampak terpukau, sebagian lain mengangguk mengikuti irama, sementara tepuk tangan panjang berkali-kali pecah di sela pertunjukan.

Bagi banyak dari mereka, malam itu bukan sekadar tontonan, melainkan perjumpaan dengan jiwa Indonesia.

Di balik panggung, cerita kolaborasi lintas budaya menjadi denyut utama pertunjukan ini.

Konser tahunan tersebut melibatkan berbagai komunitas seni dari Indonesia dan Prancis.

Komunitas itu antara lain, Asosiasi Pantcha Indra, Atelier Puspawarna, kelompok praktik musik dan etnomusikologi di Université Paris Nanterre.

Mereka bukan sekadar tampil bersama—mereka berproses bersama.

Setiap minggu, para peserta lokakarya berkumpul, mempelajari tabuhan demi tabuhan gamelan.

Ada yang baru pertama kali mengenal instrumen ini, ada pula yang telah lama jatuh cinta pada bunyinya.

Namun di ruang latihan itu, perbedaan latar belakang mencair. Yang tersisa hanyalah semangat belajar dan kecintaan pada seni.

Malam pertunjukan menjadi puncak dari perjalanan panjang tersebut.

Sebanyak 55 musisi dari dua negara duduk berdampingan, memainkan komposisi gamelan Bali seperti Tabuh Pat Parianom dan Gonjang Seret, serta karya Jawa seperti Erang-erang, Wahyu, dan Puspawarna.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *