Penulis: Rieska Wulandari
Frankfurt, Wartaeropa.com – Seorang psikolog harus mampu menangani pasien, baik dia beragama atau tidak.
Menurut co-founder Kesmenesia Jerman, Fransiska Hapsari, menggunakan agama di ruang konsultasi menyalahi kode etik. Dan itu bisa dilaporkan kepada asosiasi profesinya.
Hal ini terungkap dalam dalam diskusi publik bertajuk “Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21”.
Acara ini digelar secara online dari Frankfurt, oleh Ruanita Indonesia di bawah Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, pada Minggu 25 Januari 2026.
Wejangan religius
Fransiska menjelaskan, kesadaran pada kesehatan mental tidak relevan apabila ditangani secara agama.
Hal ini terpantau dari banyaknya pasien di Tanah Air yang mengeluh, sebab saat mereka berkonsultasi ke psikolog, malah diberi wejangan keagamaan, dan sama sekali tidak menyelesaikan masalah.
Seorang warga yang tidak mau disebut namanya menyebutkan, baginya wejangan religius tidak perlu datang ke psikolog, cukup datang ke perhimpunan ibadah atau konsultasi langsung dengan pemuka agama.

