Penulis: Gendhis Laksmana

Wartaeropa.com – KBRI Brussel bekerja sama dengan Perpustakaan Kris Lambert di Oostende menggelar bulan budaya Indonesia dengan tema “De Schat van Indonesie” atau “Treasures of Indonesia”. Acara itu meliputi pameran, diskusi buku, dan pergelaran budaya, dari 3 hingga 27 September 2022.

Pembukaan “De Schat van Indonesie” dilakukan pada Selasa (6/9/22), bersamaan dengan diskusi buku “Revolusi” karya sejarawan Belgia David van Reybrouck. Buku ini diluncurkan pada 2020 dalam bahasa Belanda, Prancis, dan Jerman. Buku ini merupakan kajian sejarah bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan bagaimana Indonesia merdeka dari kolonialisme yang berdampak pada politik global.

Pembukaan “De Schat van Indonesie” bersamaan dengan diskusi buku “Revolusi” karya sejarawan Belgia David van Reybrouck. (Foto: Gendhis)

 

Diskusi Buku dalam bahasa Inggris itu menghadirkan sejarawan Indonesia yang lama menetap di Belanda, Joss Wibisono, dan Gie Goris, jurnalis Belgia yang juga pemerhati isu-isu Asia Tenggara. Keduanya mengupas Revolusi, dan lebih jauh lagi bagaimana Revolusi kemerdekaan Indonesia bergema hingga pelosok dunia. Hadir dalam diskusi itu, kelompok-kelompok buku di Oostende dan berbagai kota di sekitar Oostende.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Andri Hadi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dirinya sempat bertemu secara pribadi dengan David van Reybrouck. David menceritakan tentang upaya dan perjuangannya menulis buku ini. Dubes Andri mengaku salut atas kegigihan David dalam menemukan sumber sejarah secara langsung. Menurut Dubes Andri, David van Reybouck adalah penulis Belgia yang dihormati dan buku bukunya populer sekali. “Kebanyakan buku sejarah Indonesia ditulis oleh penulis Belanda. Tetapi buku ini disusun oleh orang Belgia yang menulis dengan perspektif berbeda,” tutur Andri.

Selain itu, pameran “De Schat van Indonesie” menampilkan benda budaya yang merupakan koleksi Etnologi Museum Universitas Gents dan sejumlah koleksi warga Belgia yang dipamerkan di selasar perpustakaan Kris Lambert. Benda benda tersebut disusun secara apik seperti halnya dalam museum. Di antara benda benda budaya itu terdapat patung Asmat milik Pauline van der Zee, seorang warga Belgia pecinta sejarah seni. Selain itu, ada alat musik Hasapi asal Sumatera Utara, dan Sompoton dari Keladi milik suku Iban Kalimantan Barat, yang merupakan koleksi Museum Universitas Gents. Ada juga sejumlah Keris Jawa dan Lombok, serta kotak pinang berbahan kayu dari Sumba.

Menampilkan beberapa komoditas unggulan Indonesia yang merupakan produk impor favorit di Belgia, seperti kopi, teh, rempah, cokelat dan lain-lain. (Foto: Gendhis)

 

Konsul Kehormatan Marteen Blockeel mengatakan, pameran ini tidak besar, tetapi benda-benda yang dipamerkan sangat menarik. Apalagi dilengkapi dengan booklet kecil yang menerangkan setiap benda budaya yang dipamerkan.

Di tengah Perpustakaan Kris Lambert, KBRI juga menampilkan beberapa komoditas unggulan Indonesia yang merupakan produk impor favorit di Belgia, seperti kopi, teh, rempah, cokelat dan lain-lain. Bagian ini memperlihatkan Indonesia sebagai mitra ekonomi penting bagi Belgia. Di pojok lain, perpustakaan ini memamerkan koleksi buku mereka terkait Indonesia, seperti buku-buku perjalanan, kajian sosial, dan mitologi Indonesia.

Melengkapi program bulan budaya Indonesia tersebut, KBRI Brussel menampilkan pergelaran budaya Indonesia di alun-alun yang berada di depan gedung perpustakaan, pada Sabtu (10/9). Pergelaran budaya tersebut dibawakan oleh diaspora Indonesia di Belgia. Mereka menyuguhkan tari Merak, tari Belibis, tari Sajojo, dan pertunjukan musik Angklung oleh sanggar Sriwijaya.

Penampilan Reog Ponorogo mengundang decak kagum dari para penonton. (Foto: Gendhis)

 

Sebagai puncak acara, tampil pertunjukan kelompok kesenian Reog Ponorogo, yang mengundang decak kagum dari para penonton. Kehadiran kelompok Reog Ponorogo, dengan kostum luar biasa besar dan berat, yang disebut Singo Barong (berwujud kepala singa) atau Dhadhak Merak ini, merupakan kerja sama KBRI Brussel dengan Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Kelompok Reog beranggotakan 14 seniman ini tengah mengadakan tur Eropa di empat negara, yaitu Belanda, Belgia, Prancis, dan Jerman. Di Belgia, kelompok Reog ini tampil di dua kota, yaitu Oostende dan Brussel. Ini merupakan pertunjukan Reog pertama di Belgia.

Salah satu benda budaya yang ditampilkan. (Foto: Gendhis)

 

Kendati sedikit mendung, sekitar 300 penonton dari Oostende dan sekitarnya dengan antusias menyaksikan acara budaya yang terbilang langka, pada Sabtu petang itu. Fungsi Pensosbud KBRI Brussel, Nefertiti Hindratmo, mengungkapkan bahwa penyebaran info kegiatan pameran dan atraksi budaya itu dilakukan dengan bantuan media sosial cukup efektif baik melalui website KBRI, website kalender kota Oostende, Facebook, Whatsapp grup diaspora.

Joeliana, diaspora Indonesia yang tinggal di kota Antwerpen, sengaja datang ke Oostend. Ia mengendarai mobil dengan saudara dan teman-temannya untuk menyaksikan atraksi budaya Schat van Indonesie. “Sejak pandemi, sudah lama tidak ada kegiatan budaya seperti ini. Kangen juga,” ungkapnya. Joeliana mengetahui kegiatan tersebut dari grup WA teman-teman diasporanya.

Benda budaya koleksi warga Belgia. (Foto: Gendhis)

 

Sedangkan Heidy Goes, seorang warga Belgia, datang khusus dari Brussel ke Oostend, demi menyaksikan acara budaya ini. Ia agak menyesal karena hadir sedikit terlambat. Ia sangat rindu dengan Indonesia dan ingin segera “pulang kampung ke Indonesia”, meski kampung sebenarnya adalah Belgia.

Oostende atau Ostend merupakan kota pariwisata di pesisir barat Belgia dengan populasi sekitar 70.000 jiwa. Kota ini mengandalkan industri pariwisata. []

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *