Penulis: Moh. Samsul Arifin

Wartaeropa.com – Dia memang “Gundul” Alvarez. Seingatku bocah ini baru dapat bola pertama, tapi langsung melesakkan gol.

Masuk di menit 89 menggantikan Erling Haaland, menit 90+1 sudah memastikan pesta Manchester City menggunduli juara bertahan Liga Champions, Real Madrid 4-0 di leg kedua semifinal musim 2022/2023.

Sementara tiga peluang bersih Haaland mentah di tangan Courtuois. Striker beringas rekrutan jitu dari Pep Guardiola itu gagal mencetak gol, tapi jadi bagian penting dari sistem dan pola baru Pep yang brilian: 3-2-4-1.

Kunci dari kesuksesannya ini adalah babak pertama ketika Bernardo Silva justru mematikan dengan dua peluang yang diperolehnya.

Satu lewat terobosan menawan dari Kevin De Bruyne serta sundulan. Unggul dua bola di 45 menit pertama bikin mentalitas Ilkay Gundogan di atas angin.

Modal yang cukup untuk melawan Raja Eropa, Madrid yang selama ini punya siasat membunuh sesama klub Inggris: Liverpool dan Chelsea.

Ada waktunya untuk segala sesuatu. Dan di leg kedua ini City mempertontonkan sepak bola yang nyaris sempurna (atau sudah sempurna?). Sang Raja, juara bertahan disingkirkan dengan skor agregat 5-1.

Ini menunjukkan Madrid punya batas, termasuk ketika di bawah tekanan pemain ke-12: puluhan ribu suporter City di Etihad Stadium.

Semifinal yang keren. Pep & City punya syarat yang cukup untuk jawara Champions musim ini. Lawannya Inter Milan, tim kejutan yang tidak terduga karena sanggup meringkus Benfica di perempat final. Duel mereka di Istanbul, Turki layak ditunggu.

Tapi ada satu hal sebagai pamungkas. Saya tak lagi mendapatkan batu-batu “misteri” yang dapat melukai City musim ini.

Pertama, ini final kedua bagi City. Di final pertama versus Chelsea, City karena sejak format Liga Champions, ada satu kutukan: Klub yang baru pertama main di final UCL, tak pernah juara. Itu berlaku pada Chelsea musim 2007/2008 serta City dua musim lalu.

Kedua, Pep sudah dua kali juara Liga Champions bersama Barcelona. Saya tidak yakin dia akan bernasib sesial Hector Cuper (pelatih asal Argentina) tatkala menukangi Valencia dan masuk final berturut di musim 1999/2000 serta 2000/2001 tapi rontok di tangan Madrid dan Bayern Munich.

Ketiga, kembali pada Julian Alvarez. Saya ingin bilang dia ini “jimat” yang layak ditimbang Pep untuk turun lebih cepat di babak final. Alvarez telah memberi trofi Piala Dunia kepada negaranya, Argentina. Dan hoki itu bisa berlanjut jika Pep mau memaksimalkannya.

Tapi satu faktor nonteknis yang juga perlu dihitung Pep: Ilkay Gundogan. Kapten City ini kerap jadi senjata di Liga Inggris. Perannya saya kira “tidak tergantikan”.

Cuma satu minusnya: Gundogan pernah gagal juara Champions di musim 2012/2013 ketika berseragam Borusia Dortmund, takluk dari Bayern munich di final.

Dan Pep pasti tidak lupa. Di final Liga Champions 2020/2021, Gundogan juga bermain untuk City saat perang melawan Chelsea. Itu final kedua Gundogan dan seluruhnya gagal juara.

Pep tahu pasti evolusi pola 3-2-4-1 memang yahud. Tapi jangan lupa faktor nonteknis, termasuk “kutukan” di UCL. Dan kalau diperluas lagi, senior Gundogan, yaitu sesama pemain Jerman, Michael Balack menerima kutukan itu. Dia tak pernah juara Liga Champions saat berseragam Bayern Leverkusen (2001/2002) dan Chelsea (2007/2008).

Begitu pula saat membela timnas Jerman, negara itu gagal di final piala Dunia 2002 serta final Euro 2008.***

Catatan:

Foto headline: Aksi Julian Alvarez, sesaat sebelum mencetak gol. (YouTube BlueTV)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *