Drama Bom Iran Hingga Perebutan Kobalt Antara AS dan Tiongkok di Kongo

Penulis: Rieska Wulandari *)

PERSAINGAN antara Washington dan Beijing demi energi dan mineral kritis merambah hingga ke Kolwezi, di tengah konsesi pertambangan dan penggusuran paksa rumah serta sekolah.

Still I Rise, sebuah LSM di Italia, memiliki misi mengakhiri krisis sekolah global melalui demokratisasi pendidikan unggulan.

Presiden LSM Still I Rise, yang juga kandidat peraih Nobel perdamaian 2020, Nicolò Govoni, kepada jurnalis di Milan mengatakan, saat ini ada 251 juta anak yang putus dari sistem sekolah.

Selain itu, lebih dari 70 persen anak di bawah usia 10 tahun di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis.

Data ini membuktikan bahwa masalahnya bukan hanya soal akses ke sekolah, melainkan kualitas dari pendidikan itu sendiri.

Hasil investigasi timnya di Kongo yang terangkum dalam Il Prezzo del Progresso (Harga dari Sebuah Kemajuan) menunjukkan, sistem konsesi pertambangan membawa dampak terhadap penggusuran paksa dan putus sekolah di Kolwezi, Republik Demokratik Kongo, yang kini menjadi pusat persaingan strategis kobalt antara AS dan China.

Kolwezi berada di provinsi Lualaba, yang merupakan titik temu krusial dalam rantai pasok global.
Lebih dari 70 persen kobalt yang diekstraksi di seluruh dunia berasal dari wilayah ini.

Kota ini berpenduduk antara 700 ribu hingga satu juta jiwa. Sekitar satu dari tiga orang di kota ini, bekerja secara langsung maupun tidak langsung di sektor pertambangan.

Pertarungan ini bukan hanya soal minyak, tetapi meluas ke rantai pasok mineral kritis yang menentukan otonomi industri dan teknologi.

Kobalt menjadi primadona sebab mineral ini diklasifikasikan sebagai komoditas kritis untuk baterai litium-ion, mobilitas listrik, sistem penyimpanan energi, teknologi digital tingkat lanjut, dan sektor pertahanan.

“Pertarungan ini bukan hanya soal minyak, tetapi meluas ke rantai pasok mineral kritis yang menentukan otonomi industri dan teknologi,” kata Fatima Burhan Mohamed, petugas advokasi Still I Rise sekaligus kurator laporan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, kendali atas kobalt Kongo telah menjadi arena persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Ia menambahkan, sekitar 80 persen produksi kobalt industrial di provinsi Lualaba saat ini terafiliasi dengan modal dari Beijing. Seiring waktu, hal itu telah memperkokoh dominasinya di tambang-tambang serta infrastruktur pemurnian.

Dalam laporan dijelaskan secara paralel bahwa Washington telah mengintensifkan inisiatif diplomatik dan ekonominya melalui Strategic Partnership Agreement dengan Republik Demokratik Kongo.

Tujuannya untuk mendiversifikasi sumber pasokan Barat dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok Tiongkok.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *