Penulis: Sita S. Phulpin

Haloeropa.com –  Sebanyak 23 penari asuhan Eko Supriyanto dan penyanyi Anggun memukau ratusan penonton di sebuah jalan di jantung kota Paris, Prancis. Delegasi kesenian dari kota Surakarta (Solo) yang menampilkan gamelan itu, tampil kembali di Paris, setelah 133 tahun lalu tampil di acara “1889 Paris Expoisition Universelle”.

Cuplikan kisah Ramayana yang dibawakan penari asuhan koreografer kondang Eko Supriyanto. (Sita Phulpin)

Dahsyat! Itulah kesan pertama saat menyaksikan pemukaan acara “De Java à Bali: l’Eté Indonésien au BHV” (Dari Jawa hingga Bali: Musim Panas à la Indonesia di BHV).

Rabu, 8 Juni 2022, sejak pukul setengah enam petang, penonton sudah memenuhi trotoar di pinggir jalan Rivoli di jantung kota Paris. Jalan itu memisahkan kantor wali kota Paris dengan BHV, salah satu department store mewah di Paris.

Pentas seni oleh seniman Solo ini dilakukan di jalan Rivoli, Paris. (Heri Setyo)

Badan jalan di depan gedung BHV ditutup sementara. Di sana berdiri panggung pentas. Sepengetahuan penulis, ini baru pertama kalinya jalan sepanjang 3 kilometer itu sebagian ditutup, untuk sebuah pentas seni gelaran negara sahabat.

Acara dibuka dengan sambutan dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Prancis, Mohamad Oemar. Kemudian dilanjutkan sambutan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, yang memimpin delegasi kota yang dijuluki “The Heart of Java” itu ke Paris.

Pembukaan acara ditandai dengan lima kali pukulan gong, diikuti suara gamelan. Tabuhan gamelan dari kelompok Gentasari-Pantcha Indera itu menandai dimulainya pentas.

Adegan Dewi Shinta dipangku Hanoman. (Heri Setyo)

Dengan iringan gending, penari yang memainkan tokoh Rama menjadi cucuk lampah, memandu keempat penari Srimpen, penyanyi Anggun, dan para model memasuki area pentas.

Anggun dan para model mengenakan pakaian karya Ansu, Samudera Hartanto, dan Denny Wirawan. Mereka adalah para desainer papan atas Indonesia.

Berbalut outer batik panjang yang cantik, penyanyi kelahiran Jakarta yang kini bermukim di Prancis ini melantunkan tembang Sinoman.

Rama memandu keempat penari Srimpen, penyanyi Anggun, dan para model memasuki area pentas. (Sita Phulpin)

Menarik juga mendengarkan suara unik Anggun nyindhen atau menyanyi  dengan cengkok khas langgam Jawa. Tembang yang liriknya sengaja diubah untuk menyiratkan harapan kota Surakarta yang bersinar cemerlang memancar ke seluruh dunia.

Mengawali pentas, ditampilkan tarian besutan Eko Supriyanto. Penari, koreografer, sekaligus dosen asal Surakarta itu, namanya mendunia saat menjadi penata tari untuk 268 kali konser Madonna di berbagai negara.

Suguhan apik berdurasi 20 menit ini merupakan besutan Eko Supriyanto, berkolaborasi dengan koreografer Surakarta lainnya, Eko Supendi. Selain itu, ada Lumbini Trihasto, musisi gamelan kondang, juga dari Surakarta.

Seusuai tema acara, kostum penari kombinasi dari kain Jawa dan Bali. (Sita Phulpin)

Eko Supriyanto,  51 tahun, berhasil menyuguhkan pertunjukan yang sangat mempesona. Sesuai dengan tema, dari Jawa hingga Bali, penari yang sudah sering diundang pentas di acara-acara bergengsi di berbagai event internasional ini berhasil memadukan secara elok budaya Jawa dan Bali.

Cuplikan kisah Ramayana disandingkan dengan dengan arak-arakan tradisi Bali baleganjur dan topeng bondres yang kocak. Rama ala Jawa, Dewi Shinta ala Bali, dan kera Hanoman Jawa berkain kotak-kotak Bali.

Penampilan ke-23 penari yang mengenakan sepatu kets motif batik yang dirancang  khusus untuk menari di jalanan itu, benar-benar memukau.

Ratusan penonton dari Paris dan kota-kota lainnya memenuhi arena pertunjukan. (Sita Phulpin)

Para cakil yang diperankan para penari andal Solo menunjukkan kepada masyarakat Prancis, bahwa tarian Jawa tak melulu lemah lembut. Bahkan banyak tari Jawa yang sangat dinamis, yang menggabungkan keluwesan tari dan seni akrobatik.

Menyaksikan para cakil beraksi, seolah menyaksikan wayang kulit yang bergerak lincah di balik layar pertunjukan wayang. Gerakan tangan mereka yang fleksibel dan lincah, bak tangan wayang yang dimainkan sang dalang.

Pada akhir acara, penonton makin riuh saat Anggun mendendangkan lagu lawas miliknya, “Mimpi”. Musiknya diaransemen secara khusus menggunakan gamelan dengan tambahan instumen musik barat, seperti saksofon dan drum.

Dubes RI untuk Prancis, Mohamad Oemar. (Sita Phulpin)

Penonton asal Indonesia turut berdendang. Mereka memanggil-manggil nama Anggun. Tak pelak lagi, Anggun menjadi sri panggung malam itu. Salah seorang penonton Prancis bergumam, dia baru pertama kali ini melihat Anggun tampil secara live, di jalanan pula.

Pentas malam itu memang luar biasa. Tak hanya penonton Indonesia yang menyukai sajian indah itu. Beberapa penonton Prancis yang ditemui Haloeropa.com, semuanya menyatakan puas menonton acara pembukaan bulan Indonesia di BHV.

Bruno Guizot, salah seorang warga lokal, mengaku senang melihat Indonesia mampu mengombinasikan tradisi dengan modernitas.

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming. (Sita Phulpin)

Pakaian tradisional batik yang dikenakan para model juga membuktikan hal itu. James de Namur, yang berasal dari kota yang cukup jauh dari Paris, sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukan ini. Ia mengaku sangat senang melihat keindahan Indonesia di malam itu.

Meskipun pembawa acara (MC) Isabelle Yahya, yang berdarah campuran Indonesia-Prancis, telah menyatakan acara usai, penonton tak mau beranjak dari lokasi acara. Mereka berjoget ria di jalanan dengan saat gamelan memainkan tembang “Ojo Dipleroki”.

Keberhasilan pentas dan terjalinnya kerja sama antara pemkot Solo dengan BHV, tak lepas dari kerja keras KBRI Paris. Penjajakan yang cukup lama membuahkan hasil yang manis.

Editor : Tian Arief

Keterangan: Foto headline oleh Heri Setyo.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *