Meloni, Parlemen Italia yang “Outspoken”, dan “Lamaran” dari Teheran

Penulis: Rieska Wulandari *)

DI tengah meningkatnya ketegangan global, dinamika politik dalam negeri Italia ikut memanas. Perdana Menteri Giorgia Meloni kini berada di persimpangan antara tekanan domestik dan retret diplomatik dari sekutu lamanya, Donald Trump.

Parlemen Italia menunjukkan karakter khasnya: vokal, konfrontatif, dan jauh dari gaya “soft spoken”. Kritik terhadap kebijakan luar negeri Meloni disampaikan secara terbuka, tajam, dan tanpa tedeng aling-aling.

Salah satu suara paling lantang datang dari Angelo Bonelli, tokoh dari aliansi Verdi e Sinistra (Hijau dan Kiri). Ia dikenal sebagai “Si Suara Paling Keras di Ruang Sidang”.

Dalam sesi parlemen terbaru, Bonelli secara terbuka menuduh Meloni melakukan hipokrisi dalam menyikapi eskalasi konflik Timur Tengah, khususnya krisis Gaza.

Dengan gaya bicara yang langsung dan konfrontatif, ia mengecam sikap Meloni yang dinilai tidak cukup berani mengkritik Trump serta tidak tegas dalam menuntut pertanggungjawaban atas jatuhnya korban sipil.

Dari kubu oposisi utama, Elly Schlein, Sekretaris Partai Demokrat (PD), tampil dengan pendekatan berbeda—lebih intelektual, terukur, namun tetap tajam.

Ia menyoroti ketergantungan pemerintah Italia pada dinamika politik Amerika Serikat serta pentingnya menjaga kedaulatan nasional.

Dalam salah satu pernyataan yang menyita perhatian publik, Schlein membela institusi Italia dari serangan verbal Trump, sambil menegaskan bahwa negaranya tidak akan mentoleransi penghinaan dari pihak luar.

Kendati demikian, ia tetap mengkritik Meloni karena dianggap mengambil keputusan strategis tanpa melibatkan parlemen secara memadai.

Sementara itu, mantan Perdana Menteri Giuseppe Conte, yang dikenal luas saat memimpin Italia di masa pandemi COVID-19, mengambil posisi dari sudut pandang pasifisme.

Sebagai pemimpin Gerakan Bintang Lima (M5S), Conte secara konsisten menolak pengiriman senjata dan keterlibatan militer lebih lanjut.

Ia mempertanyakan alasan Italia harus terseret dalam konflik internasional yang dipicu agenda luar negeri pihak lain, termasuk kebijakan agresif dari kepemimpinan Trump.

Retaknya Hubungan Roma–Washington

Hubungan antara Meloni dan Trump kini berada di titik terendah setelah Trump secara terbuka menyebut Meloni “tidak memiliki keberanian”.

Pernyataan tersebut dipicu oleh sikap Italia yang menolak keterlibatan militer langsung dalam konflik di Selat Hormuz melawan Iran.

Meloni juga sempat membela pemimpin Vatikan, Paus Leo XIV, dengan mengecam komentar Trump yang menyerang seruan perdamaian dari Takhta Suci. Ia menyebut pernyataan tersebut sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *