DI halaman Wisma Duta KBRI Roma, satu sosok berdiri tegak menghadap masa depan. Tatapannya lurus ke depan, tangannya memberi hormat, mengenakan pakaian dinas kebesaran seorang kepala negara.
Sosok itu bukan manusia, melainkan patung perunggu Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno. Patung itu diresmikan pada 1 Juni 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila.
Peresmian patung tersebut menjadi puncak rangkaian kegiatan yang digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma. Sebelumnya, ratusan tamu mengikuti upacara Hari Lahir Pancasila yang dipimpin Ketua DPR RI Puan Maharani.

Di tengah suasana khidmat, Merah Putih berkibar di langit Roma, dikibarkan tiga putra-putri Indonesia yang berasal dari Sulawesi Utara, Jawa Barat, dan Lampung.
Momen itu seakan mempertemukan beragam latar belakang anak bangsa dalam satu semangat yang sama: Indonesia.
Namun, peresmian patung Bung Karno di Roma bukan sekadar seremoni. Di baliknya tersimpan kisah panjang tentang jejak diplomasi Indonesia di Eropa dan visi besar seorang pemimpin yang melihat dunia sebagai panggung bagi bangsa yang baru merdeka.

Tujuh puluh tahun lalu, Presiden Soekarno mengambil langkah strategis dengan mengakuisisi gedung yang kini menjadi KBRI Roma di Via Campania 55 dan Wisma Duta di Via Piemonte 123.
Kedua properti itu resmi menjadi milik Pemerintah Indonesia pada Januari 1956. Keputusan tersebut merupakan bagian dari pandangan jauh ke depan Bung Karno yang ingin menempatkan Indonesia secara terhormat di pusat-pusat diplomasi dunia.
Tak lama setelah itu, pada Juni 1956, Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Italia.
Ia disambut Presiden Italia Giovanni Gronchi dalam upacara resmi di Istana Quirinale.

Dalam kunjungan yang sama, Bung Karno juga bertemu Paus Pius XII di Vatikan dan menerima penghargaan Grand Cross of the Pian Order.
Hubungan itu terus berlanjut melalui kunjungannya kembali ke Vatikan pada 1959 dan 1964 untuk bertemu Paus Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI.
Karena itulah, kehadiran patung Bung Karno di kompleks diplomatik Indonesia di Roma memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar penghormatan terhadap seorang tokoh bangsa.

Patung itu menjadi simbol hubungan sejarah antara Indonesia dan Italia, sekaligus pengingat bahwa diplomasi Indonesia dibangun di atas keberanian dan visi yang melampaui zamannya.

