MALAM musim panas di Roma, 12 Juni 2026, terasa berbeda. Di halaman Wisma Duta KBRI Roma, alunan musik dari Nusantara mengalir lembut, menyatu dengan melodi klasik Italia yang telah dikenal lintas generasi.
Ini bukan sekadar konser. Ini adalah ruang perjumpaan dua budaya yang dipisahkan ribuan kilometer, namun dipersatukan oleh bahasa universal: seni dan musik.
Melalui pertunjukan bertajuk “Mondo Nusantara”, KBRI Roma menghadirkan sebuah pengalaman budaya yang mempertemukan warna-warni tradisi Indonesia dengan kekayaan musikal Italia.
Nama yang dipilih pun sarat makna. Dalam bahasa Italia, mondo berarti dunia.

Dipadukan dengan kata Nusantara, tajuk tersebut menjadi simbol sebuah “Dunia Nusantara” yang terbuka bagi siapa saja untuk mengenal Indonesia lebih dekat.
Malam itu jadi milik MegaMauro, duo musisi internasional yang beranggotakan penyanyi Indonesia Mega Sihombing dan pianis sekaligus komposer Italia Mauro Goia.
Mengusung konsep Artistry in Real Time (ART), keduanya menghadirkan pertunjukan yang dibangun melalui dialog musikal secara langsung di atas panggung.
Sejak nada pertama dimainkan, para tamu diajak menjelajahi bentang budaya Indonesia.
Medley lagu daerah seperti Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan dan Yamko Rambe Yamko dari Papua mengalun bergantian sebelum berpindah ke lagu klasik Italia Funiculì Funiculà.
Perpindahan itu terasa alami, seolah menunjukkan bahwa perbedaan budaya bukanlah sekat, melainkan jembatan yang menghubungkan.
Salah satu momen yang paling memikat perhatian hadir ketika Mauro Goia memainkan angklung, alat musik bambu khas Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Denting angklung berpadu dengan lagu legendaris Italia O Sole Mio, menciptakan harmoni yang terdengar asing sekaligus akrab di telinga para penonton.
Perjalanan musikal kemudian berlabuh di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, yang menjadi sumber inspirasi utama pertunjukan.
Suara gondang dan kecapi Batak yang dimainkan langsung oleh Mega Sihombing menghidupkan nuansa tanah Batak di tengah Kota Roma.
Keindahan itu semakin lengkap dengan permainan seruling dari musisi Italia Francesca Salandri yang membawakan repertoar tradisional Indonesia.
Kolaborasi Francesca menjadi gambaran nyata bagaimana budaya mampu melampaui batas kebangsaan.

