Mondo Nusantara: Ketika Danau Toba Berjumpa Napoli di Jantung Kota Roma

Melalui musik, seorang musisi Italia tidak hanya memainkan nada-nada Nusantara, tetapi juga turut merasakan dan menyampaikan kisah yang terkandung di dalamnya.

Lagu-lagu Batak seperti Butet hingga Horas menggema sepanjang pertunjukan, diiringi beragam tarian tradisional yang memukau.

Di sela-sela acara, dua anak Indonesia yang tumbuh di Italia, Adeline dan Abigail, tampil memperkenalkan ulos kepada para tamu.

Kehadiran mereka menjadi simbol generasi muda diaspora yang turut menjaga sekaligus memperkenalkan identitas budaya Indonesia di luar negeri.

Suasana kian hangat ketika Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia Junimart Girsang naik ke panggung dan berduet bersama Mega Sihombing.

Mereka membawakan lagu Bubuy Bulan, Che Sara, dan My Way.

Tepuk tangan panjang mengiringi penampilan tersebut, menandai kedekatan yang terjalin antara para penampil dan penonton.

Dalam sambutannya, Dubes Junimart Girsang menegaskan bahwa Indonesia dan Italia memiliki kesamaan yang mendasar: kecintaan yang mendalam terhadap seni, musik, dan tradisi.

Seni memiliki kekuatan luar biasa untuk melampaui bahasa, jarak, dan perbedaan. (Foto: Dok KBRI Roma)

“Melalui kolaborasi seperti inilah kita diingatkan bahwa seni memiliki kekuatan luar biasa untuk melampaui bahasa, jarak, dan perbedaan, serta untuk menumbuhkan rasa saling mengenal dan saling memahami yang lebih dalam di antara kedua bangsa,” ujarnya.

Sekitar 80 tamu undangan yang terdiri atas korps diplomatik, pelaku seni budaya, media lokal, hingga masyarakat Italia turut merasakan kehangatan malam tersebut.

Bahkan sebelum konser dimulai, para tamu telah diajak mengenal Indonesia melalui cita rasa kuliner Nusantara.

Soto ayam, lontong dengan daging kambing, mi goreng, martabak telur, hingga martabak manis tersaji sebagai bagian dari diplomasi rasa yang melengkapi diplomasi budaya.

Di tengah dunia yang semakin terhubung namun kerap diwarnai perbedaan, Mondo Nusantara menunjukkan bahwa seni masih menjadi salah satu cara paling efektif untuk membangun pengertian dan persahabatan.

Melalui denting angklung, alunan gondang, dan lagu-lagu yang melintasi benua, Indonesia dan Italia kembali menemukan titik temu: sebuah ruang di mana budaya berbicara lebih lantang daripada batas geografis.

Malam itu, Roma bukan hanya menjadi ibu kota Italia. Ia menjelma menjadi panggung kecil tempat Nusantara dan Italia saling menyapa, saling mengenal, dan merayakan keberagaman bersama.***

Sumber: Siaran Pers KBRI Roma

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *