Penulis: Rieska Wulandari

Wartaeropa.com – Selama 10 tahun bermukim di Italia, baru kali ini saya merasakan darah seperti menggelegak. Bukan karena amarah, tapi karena udara panas. Selama 6 minggu, dengan puncaknya pekan lalu, saya tidak bisa berpikir jernih, akibat gelombang panas yang melanda Italia.

Bayangkan saja, masih pukul 9 pagi saja indikator suhu menunjukkan 35°C. Peluh bercucuran tanpa henti. Setiap 20 menit kehausan, lalu minum. Sehabis minum, tak tahan kebelet ingin buang air kecil. Jadinya bolak balik ke toilet. Bikin gemes.

Boro-boro saya bisa memasak, untuk membuat tulisan ini di bawah semprotan udara dari mesin pendingin pun tak mampu. Mati gaya. Energi terserap begitu saja. Secara fisik saya lelah. Bermalam-malam tak dapat tidur tenang karena bolak balik harus menyalakan dan mematikan mesin pendingin. Karena tak mungkin semalaman menggunakan udara artifisial dari mesin itu.

Lantai rumah yang biasanya dingin, mendadak jadi serba hangat. Bahkan gagang pintu, jendela, dan sofa pun panas. Padahal tak ada sinar matahari yang langsung masuk ke dalam rumah, karena jendela saya tutup dengan tirai kayu. Sedangkan jendela kaca saya buka supaya ada angina masuk. Gilanya, angin mati. Sekalipun ada, anginnya panas!

Anak saya yang berumur 5 tahun menangis karena sofa seolah mengeluarkan radiasi udara panas. Tak berlebihan kalau diibaratkan rumah seperti di dalam oven dengan kipas udara panas.

Situasi seperti itu benar-benar menyiksa secara fisik. Itu hanya bisa diatasi oleh mereka yang biasa latihan fisik secara spartan.

Kami berusaha bertahan tanpa AC, karena AC pun sepertinya sudah mati gaya.

Saya tiba-tiba bersahabat dengan semprotan air. Setiap 10 menit, air disemprotkan ke wajah dan area leher.

Cara warga Italia menghadapi gelombang panas. (Foto: efe.com)

 

Picu bencana

Musim panas dengan suhu ekstrem kali ini –menurut istilah orang Jawa- “ora umum”.

Musim dingin kemarin pun sebetulnya berlangsung kurang normal. Selama 110 hari tanpa hujan! Musim dingin tanpa hujan adalah musim dingin yang janggal. Karena tak ada hujan, akibatnya tak ada cukup salju dan es di puncak gunung.

Para pengelola resor ski sampai harus menyemprotkan salju buatan untuk memanjakan para turis yang sengaja datang untuk bemain ski. Jika tidak, bisa berabe. Papan ski malah seret dan habis tergerus batuan. Turis pun akan sulit melakukan manuver ski. Intinya, main ski es tidak afdol tanpa salju. Ya, iya lah!

Problemnya tak hanya itu. Situasi menjadi fatal ketika salju abadi tak ada lagi. Maka es di puncak gunung pecah dalam mega bongkahan dan meluncur ke kaki gunung. Longsoran salju itu merangsek dengan kecepatan 300 km/jam. Setidaknya 9 orang tewas. Sebuah kisah tragis.

Suhu panas ekstrim seperti ini pernah terjadi sekitar 70 tahun lalu. Artinya, mereka yang berusia lebih dari 70 tahun, pernah mengalami fenomena ini. Tapi bagi saya, ini suatu sensasi yang sangat asing, suatu kondisi yang tak saya kenal.

 

Tentang liburan musim panas

Saat pindah ke Italia, saya heran liburan sekolah anak-anak sekolah dimulai pada bulan Juni (sekitar tanggal 7 atau 8), dan kembali ke sekolah pada 7 atau 8 September.  Tiga bulan libur, enak sekali!

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *