Penulis: Rieska Wulandari

Wartaeropa.com – Satu tragedi kemanusiaan terjadi di Laut Mediterania, Italia Selatan. Sebuah kapal kayu yang dijejali imigran menuju Italia hancur berkeping-keping dihantam badai.

Sedikitnya 67 orang dilaporkan tewas, termasuk 12 anak kembar dan bayi berusia 2 bulan. Sedangkan puluhan orang lainnya dilaporkan hilang.

Rute pelayaran di Mediterania ini terkenal sebagai rute paling berbahaya di dunia, terutama bagi para pengungsi.

Para pengungsi saat diselamatkan kapal kargo. (Foto: screenshoot YouTube Wion)

Pantai Calabria sebenarnya bukanlah tujuan populer bagi kapal-kapal pengungsi. Namun Yunani telah memperkuat perbatasannya, sehingga para penyelundup yang beroperasi di Turki nekat mengambil jalur baru.

Rute yang lebih berbahaya dan lebih panjang itu melintasi gugus pulau-pulau Yunani untuk mencapai pantai Italia, tepatnya Calabria.

Kantor berita Ansa melaporkan, kapal yang diduga berangkat dari Turki 5 hari lalu, dipenuhi pengungsi dari Afghanistan, Iran, dan Pakistan.

Untuk harapan baru yang belum tentu jadi kenyataan itu, masing-masing pengungsi harus merogoh kocek 8.000 euro.

Akibat peristiwa ini, seorang warga negara Turki ditahan dengan tuduhan melakukan perdagangan manusia.

Kapal sepanjang 20 meter yang dimuati 150 pengungsi itu hancur berkeping-keping saat mencoba mendarat di pantai dekat kota Crotone, di wilayah Calabria.

Penjaga pantai mengatakan, sebanyak 81 penyintas ditemukan selamat. Namun 20 dari mereka menderita luka dan hipotermia. Mereka kemudian dirawat di rumah sakit setempat, sisanya ditampung di shelter sementara.

Gubernur wilayah Calabria Roberto Occhinto menyatakan, Calabria berduka atas tragedi tersebut.

Pecahan kapal kayu pengungsi yang karam di lepas pantai Calabria Italia Selatan. (Foto: screenshoot YouTube)

Di tepi pantai, tampak puing-puing kayu berserakan sepanjang 100 meter dari bibir pantai. Tim penyelamat masih terus melanjutkan pencarian korban.

Filippo Grandi, komisaris tinggi PBB untuk pengungsi, menyerukan kepada pemerintah Eropa agar berhenti berdebat dan melakukan tindakan bersama yang adil, efektif, untuk menghindari lebih banyak tragedi serupa.

Sementara itu, PM Italia Giorgia Meloni dalam pernyataannya mengungkapkan kesedihan yang mendalam atas hilangnya banyak nyawa dalam pedagang manusia.

Italia, kata Meloni, berkomitmen untuk mencegah keberangkatan kapal pengungsi semacam itu dan berupaya mengungkap tragedi itu.

Maloni menggambarkan bahwa menggunakan perahu sepanjang 20 meter yang dijejali 200 penumpang adalah sebuah tindakan kriminal. Apalagi pelayarannya dilakukan dalam prakiraan cuaca yang buruk.

“Tidak manusiawi menukar nyawa pria, wanita, dan anak-anak dengan harga ‘tiket’ yang mereka bayarkan pada perspektif yang salah tentang perjalanan yang aman,” tegas Meloni.

Atas tragedi itu, Meloni mengatakan pemerintahnya akan menuntut “kolaborasi maksimal” dengan negara asal para pengungsi.

Puing kapal yang terdampar di Pantai Calabria Italia Selatan. (Foto: screenshoot YouTube)

Masalah lama yang terus menggunung

Seorang ahli politik Italia yang tidak mau disebutkan namanya, kepada Warta Eropa mengatakan, masalah ini bermula dari kebijakan politik Italia yang memberikan kebaikan dan kemudahan kepada para pengungsi. Namun tanpa kontrol dan kurangnya kerja sama dengan negara-negara di Afrika Utara.

Dua faktor itu menjadi semakin kompleks, terutama di tingkat Uni Eropa. Ditambah Amerika Serikat yang tidak membantu, bahkan cenderung berkontribusi pada instabilitàs dan ketidakstabilan di beberapa wilayah, Libya, Suriah, dan zona perang lainnya. Alhasil arus pengungsi terus meningkat ke wilayah Uni Eropa.

Selain masalah pengungsi, kelompok kriminal terorganisir juga membuat situasi semakin ruwet.

“Italia bersama UE harus membangun kerja sama dengan negara asal pengungsi dengan memperbaiki dan mengembangkan negara agar tidak harus mengungsi dari Tanah Airnya,” tandasnya.

Sejauh ini, menurut politisi itu, Amerika Serikat tidak banyak membantu dalam masalah ini. Tetapi Uni Eropa harus segera mengambil langkah. Jika tidak, Eropa akan runtuh akibat masalah ini,” imbuhnya.

Seorang anak laki-laki pengungsi yang berusaha berenang ke pantai menggunakan botol air mineral sebagai pelampung. (Foto: screenshoot YouTube)

Tragedi berulang

Pada 2015, sebuah kapal berpenumpang lebih dari 600 pengungsi tenggelam dalam pelayaran dari Libya menuju Italia.

Menurut badan migrasi PBB, dalam beberapa bulan terakhir, korban tewas di Mediterania antara 100 dan 300 orang.

Sampai saat ini setidaknya terdapat 12.000 pengungsi yang berhasil mencapai Italia sepanjang tahun ini. Sebanyak 678 di antaranya melalui Calabria. []

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *