Penulis: Krisna Diantha

Wartaeropa.com – BANYAK jalan menuju bahagia. Karim Rossi membuktikannya. Pemain sepak bola Swiss yang tidak laku di Eropa, justru laris di Indonesia. Tak hanya sekadar laku di pasaran dunia ketiga, tapi juga bahagia.

“Kalau kontrak diperpanjang, saya akan memilih tetap merumput di sini,“ kata Karim Rossi kepada koran Tagesanzeiger.

Berlaga di lapangan hijau. (Foto: SVG)

 

Rossi bermain sebagai penyerang Dewa United, klub sepak bola yang bermarkas di Tangerang, Banten.

Gajinya setara dengan gaji pemain medioker di FC Basel atau SC Young Boys Bern, dua klub papan atas di Swiss.

Selain itu, ditambah fasilitas vila dengan fitness centre dan kolam renang, serta mobil, dan tentu saja asisten rumahtangga.

Rossi hidup mewah untuk ukuran Swiss maupun Indonesia.Jika ada waktu senggang, dia bisa plesiran ke Bali. Pantai berpasir putih adalah impian setiap warga Swiss saat liburan.

Rossi sudah malang melintang di Eropa. Tercatat 15 klub di sembilan negara yang pernah disinggahinya.
Delapan di antaranya, Swiss, Swedia, Belanda, Italia, Belgia, Luxemburg, Inggris, dan tentu saja Indonesia.

“Dengan usia 28 tahun saat ini, tidak akan banyak kesempatan saya untuk dikontrak klub di Eropa,“ katanya.

Bermain di Jakarta, dan selalu menjadi pemain utama di lini depan, katanya, adalah impian setiap penyerang sepak bola.

Menikmati kehidupan mewah di Indonesia. (Foto: Instagram Karim Rossi)

 

Kalaupun masih ada yang mengganjal hatinya adalah jarak yang jauh antara Jakarta dan Lausanne.
“Keluarga saya sebagian besar ada di sana, rindu pasti ada,” akunya.

Karim Rossi lahir di Willy, sebuah kota kecil di Provinsi Waad, Swiss Barat, 28 tahun lalu.

Ia berdarah Maroko namun berpaspor Swiss. Memiliki latar belakang pendidikan sepak bola di Lausanne, ibu kota Provinsi Waad, Rossi pertama kali merumput di SC Lausanne.

Jika Dewa United tidak lagi mengontraknya, Rossi mengaku akan merumput di Cina atau semenanjung Arab.
“Kalau boleh, saya masih suka di Indonesia,“ katanya.

Rossi yang sempat terpengaruh dengan tragedi Kanjuruhan Malang Jawa Timur,  kini mulai bisa bermain maksimal.

“Tidak ada lagi yang lebih membahagiakan sebagai pemain sepak bola selain bermain di lapangan hijau,“ imbuhnya. []

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *