Milan, Wartaeropa.com – Jurnalis asal Indonesia, Rieska Wulandari, terpilih sebagai anggota Komite Direktif atau Komite Pengarah Asosiasi Jurnalis Asing di Italia.

Rieska sudah bermukim di Italia sejak 2010, dan mengawali karir jurnalistiknya sejak 2001. Saat itu, Rieska masih duduk di bangku kuliah Fikom Unpad.

Keputusan ini berdasarkan hasil voting pada Selasa 12 Maret 2024 yang diumumkan secara resmi di laman media sosial Asosiasi tersebut, pada Senin 18 Maret 2024.

Asosiasi Jurnalis asing di Italia adalah organisasi prestisius di mata dunia, sebab selain yang tertua juga terbesar.

Rieska Wulandari bersama anggota Asosiasi mewawancarai PM Italia Giorgia Miloni. (Foto: Dok Rieska Wulandari)

Asosiasi Jurnalis Asing atau dalam bahasa Italia disebut Associazione della Stampa Estera didirikan di Roma Italia pada 1912.

Setelah itu menyusul pendirian asosiasi di Milan yang bersinergi dengan “saudara tuanya” di Roma pada 1925.

Di Roma, setidaknya terdapat 400 jurnalis asing dari berbagai media di seluruh dunia terakreditasi sebagai anggota asosiasi ini. Sedangkan di Milan tercatat 110 jurnalis dari 25 negara.

Di laman resminya, Stampa Estera Milan mengumumkan jajaran Direktur dan Komitenya untuk masa tugas 2 tahun. Mereka adalah:

Direktur Pelaksana: Tatjana Dordevic (Serbia)

Komite Pengarah: Heather O’Brian (Amerika Serikat), Alessio Perrone (Italia), Rieska Wulandari (Indonesia)

Komite Penulis: Andrew Spannaus (Amerika Serikat)

Komite Kredensial: Andrea Affaticati (Austria), Sanja Lucic (Serbia) dan Eva Pleus (Austria)

Dewan Auditor: James Imam (Inggris), Michele Novaga (Italia), Eric Sylvers (AS)

Sejarah Stampa Estera

Direktur Pelaksana Tatjana Dordevic dari Serbia. (Foto: Dok Rieska Wulandari)

Asosiasi Pers Asing di Italia (Stampa Estera) adalah sebuah asosiasi jurnalis asing tertua dan terbesar di dunia.

Stampa didirikan pada 1912 untuk mengakomodasi para koresponden surat kabar asing yang bertugas di Italia.

Hingga 2018, Stampa telah menerbitkan 5.289 kartu anggota, dengan jumlah anggota 426 jurnalis.

Asosiasi ini lahir pada 17 Februari 1912 pukul 9:30 pagi di Gran Caffè Faraglia.

Ini adalah kedai historis yang termashur dengan minuman dan es krim khas Italia dan memiliki pemandangan indah karena menghadap ke Piazza Venezia di Roma.

Pendiri Asosiasi itu adalah 14 jurnalis dari enam negara asing yang bertugas di Italia.

Pada 27 Februari 1912 anggota bertambah menjadi 27 koresponden dari berbagai surat kabar, antara lain Le Petit Parisien, Echo de Paris, New York World, Russkiye Vedomosti, Kievskaya mysl, Daily Express dan United Press of America.

Presiden pertama dari asosiasi ini dijabat Léon Boudouresque, koresponden Le Petit Parisien.

Setelah sukses di Roma, Stampa membuka cabang di Milan pada 1925.

Sejak 14 Maret 2022, Kepresidenan asosiasi ini dijabat Esma Çakır, koresponden saluran televisi Turki NTV.

Peran Stampa waktu pandemi

Para jurnalis asing di Italia menjembatani informasi tetang COVID-19 ke seluruh dunia. (Foto: Dok Rieska Wulandari)

Sewaktu COVID-19 melanda dunia, terjadi lockdown nasional di Italia.

Stampa Estera, bekerja sama dengan FIAT, melakukan konferensi pers dengan narasumber kompeten, yang memahami apa itu COVID.

Para narasumber itu meliputi profesor atau peneliti dari universitas, kepala rumah sakit, menteri kesehatan, dan pasien pertama COVID-19 di Italia.

Saat itu jurnalis bisa menjembatani kebutuhan informasi secara maksimal, tak hanya pada lingkup nasional Italia, tapi juga ke seluruh dunia, karena para jurnalis tersebut adalah perwakilan dari negara asal mereka.

Asosiasi ini juga berhasil membangun “ritual” baru, yaitu makan malam bersama Perdana Menteri Italia.

Buku Indonesia Unexplored, otobiografi sekaligus catatan perjalanan jurnalistik Rieska. (Foto: Dok Rieska Wulandari)

Inisiatif pertama ini dilakukan oleh PM Draghi, yang lama berkecimpung di Uni Eropa, sehingga mengerti pentingnya jurnalis asing.

Awal tahun ini, Stampa makan malam dengan PM Giorgia Meloni, yang bersedia hadir dalam suasana yang hangat dan informal.

Bahkan Meloni dengan telaten melayani pertanyaan-pertanyaan kompleks dari para jurnalis.

Rieska Wulandari saat ini berprofesi sebagai jurnalis lepas dan berkolaborasi dengan televisi nasional di Indonesia, South East Asia (SEA) Today.

Ibu dua anak ini telah menulis memoar berupa otobiografi dan catatan perjalanan awal karir jurnalistiknya berjudul Indonesia Unexplored, yang diterbitkan oleh Garis Khatulistiwa, Makassar.***

Foto headline: Rieska Wulandari [kedua dari kiri] (Foto: Dok Rieska Wulandari)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *