Dari Sofa Bekas hingga Kapal Induk: Pelajaran Buang Sampah dari Italia

Penulis: Claudia Magany *)

DI Indonesia, membuang sampah rumahtangga umumnya lewat petugas sampah. Sampah dikumpulkan dalam kantong plastik dan diletakkan di depan rumah untuk diangkut petugas ke tempat pembuangan sementara (TPS).

Warga yang berlangganan jasa pengangkutan sampah ini ditarik iuran secara bulanan dengan tarif yang telah disepakati warga dengan pengurus lingkungan. Tarifnya cukup terjangkau.

Namun di Italia, membuang sampah kesannya sepele, tapi kalau dilakoni, cukup membuat stres juga. Selain urusannya ribet, setelah dikalkulasi iurannya mahal juga.

Tiap provinsi punya hak otonom untuk mengurus persampahan di wilayah masing-masing. Di Provinsi Treviso, tempat saya tinggal, sampah dikelola oleh dinas kebersihan komunal (comune) yang diberi nama Savno.

Sebelumnya, Savno menyediakan sarana bak sampah publik di beberapa titik strategis. Ada bak warna kuning untuk sampah kertas, hijau tua untuk botol, hijau muda untuk plastik, dan bak hitam untuk sampah non-daurulang.

Namun belakangan, sistemnya diganti. Setiap rumah diberi tempat sampah ukuran rumahtangga dengan warna dan fungsi yang sama. Bedanya, sampah plastik tidak memakai wadah, tetapi kantong plastik besar warna biru.

Savno juga menerbitkan kalender lengkap dengan jadwal pembuangan sampah di setiap wilayah. Misalnya Oderzo, jadwal sampah kertas dan plastik, setiap Kamis, bergantian.

Kamis ganjil untuk plastik, Kamis genap untuk kertas. Jadwal botol dan non-daur, sebulan sekali pada hari Rabu, dan sampah organik, setiap Senin dan Kamis.

Tiap comune juga memiliki ecocentro, pusat pembuangan sampah yang dikelola Savno. Warga bisa mengantarkan langsung sampah mereka ke tempat ini.

Biasanya yang sengaja datang ke ecocentro adalah mereka yang akan membuang sampah yang ukurannya tidak bisa, lebih besar dari ukuran tempat sampah.

Oh ya, kalau sampah tidak tertutup rapi, petugas Savno tidak mau mengangkutnya. Mereka akan meninggalkan stiker dengan catatan peringatan. Artinya, akhir tahun anda akan dikenakan tambahan biaya sebagai denda dalam rekening, karena telah melanggar aturan Savno.

Untuk masuk ke ecocentro, akses pintunya menggunakan kartu codice fiscale yang terdaftar di comune.

Di keluarga kami, hanya suami yang terdaftar. Jadi saya tidak bisa masuk kalau mengandalkan kartu saya.

Kartu ini juga berguna untuk mengambil plastik sampah organik. Kami mendapat jatah gratis dua bungkus setiap tahun.

Kalau dalam setahun mengambil 4-6 bungkus, tagihan akhir tahun tentu akan membengkak. Juga kalau sering keluar masuk ecocentro, tagihan akan bertambah mahal lagi.

Di dalam ecocentro, berderet bak-bak terbuka dengan pelang nama sesuai material masing-masing, seperti besi, kayu, plastik, eletronik, karet, cat, minyak, dll, lengkap dengan CCTV yang siap merekam.

Dulu suami pernah membuang sepeda. Sebelum masuk, petugas memberi tang dan obeng, untuk pereteli sendiri sepeda yang akan dibuang.

Kita disuruh memilah antara besi, plastik, dan karet. Bayangkan, kita harus mencongkel ban dari peleknya, karena ban terbuat dari karet.

Logikanya, kita mengantar sampah yang sudah dipereteli sendiri, namun tetap diharuskan membayar biaya tambahan. Jangan pernah berharap gratis.

Karena itu, saat berbelanja atau memesan barang meubel, seperti sofa bed, saya sudah mewanti-wanti suami untuk mengontak Caritas dan Savno, soal buang sampah besar (sofa bed lama yang sudah tidak terpakai).

Maklum, sejak transaksi penjual menjanjikan jasa pembuangan mebel lewat toko mereka. Untuk membuang sofa bed lama, harus bayar tambahan biaya sampahnya sebesar 60 euro (senilai Rp1.180.745).

Caritas

Caritas adalah yayasan gereja yang mengelola sumbangan barang bekas layak pakai. Dulu, mereka sediakan kotak kuning untuk menampung baju, sepatu dan tas dari warga.

Namun belakangan, saya tak lihat lagi kotak-kotak kuning mereka. Warga harus mengantarkan langsung ke kantor Caritas, sebab mereka akan menyeleksi terlebih dulu setiap barang sumbangan.
Untuk baju, syaratnya harus dalam keadaan bersih (sudah dicuci dan disetrika rapi), serta tidak bercacat (robek, luntur, kurang kancing, dll).

Demikian pula dengan barang rumahtangga. Harus layak dan siap pakai. Karena itu, saya langsung siapkan foto-foto sofa bed dari berbagai arah, untuk dilihat mereka agar mereka yakin kalau sumbangan kami memenuhi syarat.

Tetapi tiap kali ke sana, kantor ini tutup. Bahkan mereka menuliskan pengumuman: TUTUP (tidak menerima sumbangan).

Berdasarkan pengalaman buang sepeda, dari Jumat sebelumnya kami sudah pereteli sofa bed. Sayangnya, kerangka ranjang cukup besar, tidak muat di dalam mobil untuk dibawa ke ecocentro.

Ukuran ini pula yang menjadi alasan kami mengganti sofa bed, sebab terlalu panjang untuk ukuran rumah kami.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *