Wina, Wartaeropa.com – Austria menilai Indonesia berhasil menunjukkan bahwa keberagaman bukan sumber perpecahan, melainkan modal sosial penting untuk membangun stabilitas dan ketahanan nasional, termasuk dalam menjaga toleransi antarumat beragama.
Pandangan tersebut mengemuka dalam gelaran 9th Austria–Indonesia Interfaith and Intercultural Dialogue serta International Conference on Governance of Religious Diversity, yang berlangsung pada 27–29 April 2026, di kota Graz dan Wina, Austria.
Forum yang telah berlangsung secara konsisten sejak 2010 itu menjadi salah satu platform dialog lintas agama paling aktif dan berkelanjutan antara Austria dan mitra internasionalnya.

Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI Heru Hartanto Subolo, bersama unsur Kementerian Agama, akademisi, praktisi digital, dan komunitas pemuda.
Dialog tahun ini mengangkat tema “peran generasi muda dan ruang digital dalam memperkuat koeksistensi damai antarumat beragama di tengah tantangan intoleransi, disinformasi, dan polarisasi global”.
“Menyelenggarakan dialog lintas agama di tengah situasi global yang penuh gejolak bukan sekadar simbolis, melainkan sebuah upaya nyata membangun perdamaian. Pengalaman Indonesia bukanlah klaim atas kesempurnaan, melainkan realitas hidup dalam mengelola keberagaman di tengah masyarakat besar dan demokrasi yang dinamis,” ujar Heru, dalam sesi konferensi publik di Universitas Wina.

Dalam berbagai sesi dialog, pihak Austria menyampaikan apresiasi terhadap pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman agama, budaya, dan etnis di tengah populasi besar dan kondisi geografis kepulauan yang kompleks.

