Monolog Topeng DAM: Jembatan Budaya Indonesia dan Eropa

Pertunjukan Wawan Sofwan.

Penulis: Azuzan JG

Arnhem, WartaEropa.com – Di tengah dunia yang semakin terhubung, seni pertunjukan tetap menjadi salah satu medium paling efektif untuk mempertemukan berbagai budaya. Dalam kajian komunikasi antarbudaya (intercultural communication), proses saling mengenal dan memahami antarbangsa sering diibaratkan sebagai pembangunan sebuah “jembatan budaya”. Melalui jembatan itulah gagasan, nilai, tradisi, dan ekspresi seni dapat saling bertemu dan memperkaya satu sama lain.

Semangat tersebut hadir dalam Monolog Topeng DAM karya seniman teater Indonesia, Wawan Sofwan, yang akan dipentaskan di Indonesia House Amsterdam pada 12 Juni 2026. Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan pengalaman artistik yang unik, tetapi juga menjadi contoh nyata dialog budaya antara Indonesia dan Eropa.

Monolog Topeng DAM pertama kali dipentaskan pada tahun 1998 di Universitas Monash, Melbourne, Australia. Karya ini mengangkat cerita adaptasi cerpen Putu Wijaya tentang seorang terdakwa yang dituduh melakukan pembunuhan. Dalam pertunjukan tersebut, satu aktor memainkan berbagai karakter sekaligus, terdakwa, jaksa, dan hakim, dengan bantuan topeng yang berbeda untuk setiap tokoh.

Konsep ini berakar pada tradisi Topeng Pajegan dari Bali, sebuah bentuk seni pertunjukan yang memungkinkan satu pemain memerankan banyak karakter. Namun, Wawan Sofwan kemudian mengembangkan pendekatan tersebut melalui perjumpaannya dengan tradisi teater topeng Eropa, khususnya Commedia dell’arte, seni pertunjukan yang berasal dari Italia dan berkembang luas di berbagai negara Eropa.

Pengalaman residensi bersama Alessandro Marchetti di Berlin pada tahun 2000 memperkaya pemahaman Sofwan mengenai teknik dan filosofi penggunaan topeng dalam tradisi teater Eropa. Hasilnya adalah sebuah karya yang memadukan unsur-unsur teater Nusantara dengan pendekatan artistik yang dikenal luas oleh penonton internasional.

Sebagai seniman yang tumbuh dalam lingkungan budaya Sunda, Sofwan juga membawa pengaruh berbagai tradisi topeng Indonesia, seperti Topeng Panji, Topeng Banjet, dan Topeng Menor. Menariknya, topeng yang digunakan dalam pertunjukan ini dirancang secara khusus oleh pematung dan seniman Bali, Nyoman Nuarta.

Perjumpaan berbagai tradisi tersebut menjadikan Monolog Topeng DAM sebagai representasi nyata seni pertunjukan lintas budaya. Unsur ekspresi tubuh, improvisasi, serta interaksi langsung dengan penonton membuat pertunjukan ini mampu menjangkau audiens dari latar budaya yang berbeda tanpa kehilangan akar tradisi Indonesia.

By Redaksi

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *