Desenzano, Wartaeropa.com – Di tengah pusaran kasus pengadaan Chromebook di Kemendikbud, yang menjerat Ibrahim Arief (Ibam) dengan tuntutan 15 tahun penjara, muncul suara hati dalam bentuk surat terbuka yang menyentuh dari seorang sahabat lamanya, Amelia Rachim (Inem).
Dalam surat terbukanya, Inem —yang kini menetap di Italia sebagai desainer perhiasan— mengungkapkan penyesalan, kekaguman, sekaligus kegelisahan terhadap jalan hidup Ibam yang ia kenal sejak bangku SMA.
“Ngapain sih lo balik ke Indonesia?”
Dalam suratnya, Inem tak menutupi keheranannya atas keputusan Ibam meninggalkan kehidupan mapan di Belanda.
“Lo udah punya kerjaan tetap, gaji euro, apartemen nyaman… hidup lo udah enak. Mau apalagi sih, Bam?”
Ia membandingkan kondisi Ibam saat itu dengan dirinya yang masih berjuang sebagai mahasiswa rantau di Italia, hidup hemat sambil mengejar mimpi di bidang desain.
Bagi Inem, keputusan Ibam untuk kembali ke Indonesia bukan sekadar langkah karier, melainkan pilihan hidup yang sulit ia pahami —meski ia tahu alasan di baliknya.
Idealisme Lama yang Masih Terngiang
Inem mengingat percakapan mereka saat sama-sama merantau di Eropa. Kala itu, Ibam menyampaikan keinginannya untuk “berbakti untuk Indonesia”.
“Waktu itu kita masih muda, masih idealis… tapi gw ga pernah ngerti kenapa lo ngotot balik,” tulisnya.
Ia menggambarkan betapa kontrasnya antara kehidupan di Eropa —yang tertib, bersih, dan nyaman— dengan realitas Indonesia yang penuh tantangan.
Namun pada akhirnya, Inem mengakui bahwa idealisme itulah yang memang menjadi bagian dari diri Ibam.
Sosok yang Selalu Membantu
Dalam surat tersebut, Inem juga mengenang masa sekolah mereka di SMA Negeri 8 Jakarta.
Ia menyebut Ibam sebagai sosok yang sejak dulu selalu membantu orang lain, bahkan tanpa diminta. Mulai dari, membantu memahami pelajaran sulit, memberi contekan tugas, hingga memperbaiki komputer sekolah tanpa imbalan.

