Dalam proses itu, gamelan menjelma menjadi bahasa universal yang mampu melampaui batas geografis maupun perbedaan budaya.
Pengalaman budaya yang ditawarkan semakin lengkap melalui sajian kuliner khas Bali yang dapat dinikmati para pengunjung. Aroma rempah-rempah Nusantara berpadu dengan alunan gamelan, menghadirkan pengalaman yang mengajak masyarakat internasional mengenal Indonesia melalui berbagai indera sekaligus.
Menjelang malam, kegiatan berlanjut melalui sesi Artist Talk yang menghadirkan Dieter Mack, Septian Dwi Cahyo, dan Krishna Putra Sutedja, dimoderatori oleh seniman Italia, Ivan Liuzzo.
Diskusi mengupas perkembangan gamelan kontemporer, pertukaran budaya Indonesia–Swiss, serta bagaimana seni tradisional tetap relevan dalam membangun dialog lintas budaya di era global.
Puncak acara ditandai dengan konser kolaborasi musisi Indonesia dan Swiss. Tradisi dan inovasi berpadu dalam satu panggung, menghasilkan harmoni yang mendapat sambutan hangat dari para penonton.

Tepuk tangan panjang yang mengiringi penampilan mereka menjadi simbol apresiasi terhadap kekayaan budaya yang mampu menyatukan beragam latar belakang manusia.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein, Ngurah Swajaya, mengapresiasi konsistensi Gamelan Saraswara dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
“Keberadaan komunitas gamelan dan kelompok seni budaya Indonesia di Swiss telah menjadi mitra penting dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia serta mempererat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Swiss,” ujarnya.
Keberhasilan penyelenggaraan Gamelan Community Gathering 2026 menunjukkan bahwa gamelan Indonesia memiliki tempat yang istimewa di Swiss.
Selain berkembang melalui komunitas seni, gamelan Bali kini juga diajarkan di sejumlah institusi pendidikan tinggi terkemuka, termasuk melalui Gamelan Saraswara yang berafiliasi dengan University of Applied Sciences and Arts Northwestern Switzerland (FHNW), serta program musik gamelan di Haute École de Musique de Genève (HEM Genève).
Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Bern Dahlia Kusuma Dewi mengatakan, apresiasi masyarakat internasional terhadap budaya Indonesia adalah sebuah kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus memperluas kerja sama budaya.
“Merupakan suatu kebanggaan ketika budaya Indonesia mendapat apresiasi di luar negeri. Semoga kerja sama ini terus berlanjut dan bahkan dapat dikembangkan lagi di masa mendatang,” tuturnya.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, Gamelan Community Gathering memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi instrumen diplomasi yang efektif dan menyentuh.
Melalui nada, gerak, dan interaksi yang berlangsung secara alami, Indonesia membangun kedekatan dengan masyarakat dunia tanpa sekat.
Karena itulah, Gamelan Community Gathering bukan sekadar festival budaya. Ia adalah wujud nyata soft power diplomacy Indonesia—sebuah ruang perjumpaan yang mempererat persahabatan, memperluas pemahaman budaya, dan menegaskan bahwa seni dan musik merupakan bahasa universal yang mampu menjangkau hati siapa pun, di mana pun.
Penyelenggaraan kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan 75 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia–Swiss pada 2026, menegaskan eratnya hubungan antarmasyarakat kedua negara serta komitmen untuk terus membangun kerja sama yang berkelanjutan di masa depan.***
Sumber: Siaran Pers KBRI Bern

