Di antara stand itu ada juga komunitas polisi asal Maluku. Mereka hadir untuk ikut memperkenalkan komunitas Maluku yang bekerja di lembaga kepolisian sambil ikut meramaikan acara.

Panggung ‘Badansa dan Badendang’ diisi dengan tari-tarian khas Kepulauan Tanimbar dari grup Lima Diti. Selain itu, ada pula ragam tarian dari Maluku oleh Maropi Perowano dan Sanggar Kelompok Bina Budaya Moar – Holland.

Sementara itu, alunan musik Sasando dipersembahkan oleh Amor Frans dan Maureen Dumais, serta musik tifa oleh Culturegroup Tifa Bunji.

Ada pula pergelaran busana adat Malaka, Belu, Manggarai, Maumere, dan Nagekeo oleh Bintang Timur.

Para pengisi acara yang jumlahnya lebih dari 100 orang ini semuanya adalah warga diaspora Indonesia Timur.

Stan makanan khas Makassar. (Foto: Yuke Mayaratih)

Menurut Dubes Mayerfas, diaspora Indonesia di Belanda paling banyak berasal dari Indonesia Timur. Acara pertama di Belanda yang mengangkat dan mempromosikan potensi seni dan budaya serta kuliner khas Indonesia Timur yang ada di Belanda.

Banyak pengunjung yang rela menempuh perjalanan jauh menuju ke lokasi acara untuk menikmati aneka makanan yang tidak ada di berbagai restoran Indonesia di Belanda, seperti papeda, coto Makassar, martabak dan juga masakan Manado serta makanan khas Papua.

Tampak pengunjung menikmati sajian musik dan tarian sambil bercengkrama dengan sesamanya. Bahkan terlihat beberapa warga Belanda yang juga menikmati masakan khas Sulawesi Selatan, seperti es pisang ijo.

Juga tampak beberapa pengunjung menggunakan pakaian dengan corak tenun khas Indonesia Timur.

Semakin malam, acara semakin meriah. Pengunjung tak beranjak pulang hingga acara selesai. Acara yang dimulai pukul 10 pagi itu berakhir pukul 10 malam.

Tia, warga Indonesia yang tinggal di Amsterdam menuturkan, ia sengaja datang ke acara Festival Indonesia Timur ini untuk bisa makan papeda, makanan kesukaannya.

“Untuk datang ke sini, saya menempuh perjalanan dengan kereta api sekitar 1 jam. Belum lagi udara dingin sampe minus, tapi saya tetap ingin datang. Saya kangen sama suasana dan makanan yang nggak ada dijual di warung di Belanda. Dan saya juga penasaran dengan penyanyi asal Papua yang lagi naik daun di Belanda, Yosina Roemajauw,” kata Tia sambil tertawa.***

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *