Namun yang menjadi inti kegiatan adalah pembacaan surat-surat Kartini sebagai sarana memahami pemikiran dan perjuangannya secara lebih mendalam.

“Kami tidak ingin Hari Kartini sekadar dirayakan dengan kebaya dan dandan cantik. Saya rasa bukan itu mimpi dan cita-cita Kartini untuk perempuan,” ujar Nina Mussolini-Hansson, co-founder & PR Bagusföreningen.
Ia menegaskan bahwa pendekatan edukatif ini penting agar generasi muda dan masyarakat internasional dapat memahami esensi perjuangan Kartini.
Meski menonjolkan unsur pendidikan, panitia tetap menghadirkan hiburan agar acara berlangsung menarik dan partisipatif.
“Tentu kami tidak melupakan unsur hiburan agar penonton tidak merasa bosan dan bisa ikut aktif,” tambah Nina.
Melalui kegiatan ini, Bagusföreningen juga ingin memperkenalkan sosok Kartini kepada masyarakat Swedia, sebagai bukti bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan.
Di penghujung acara, Bagusföreningen menganugerahkan Bagus Kartini Award 2026 kepada Eka Resmiati Gunnarsson, sosok perempuan diaspora yang dinilai inspiratif dalam menyeimbangkan peran keluarga, pekerjaan, dan kontribusi sosial.
“Insyaa Allah award ini akan kami lanjutkan untuk menjaring perempuan-perempuan diaspora Indonesia yang menginspirasi di seluruh Swedia,” tutup Nina.***

