Penulis: Silvy Werdani Puntowati

Denhaag, Wartaeropa.com – Kesenian Jawa Timur ‘manggung’ di Eropa. Grup Wayang Potehi Gudo dari Jombang turut meramaikan Tong Tong Fair ke-62 yang digelar di Lapangan Malieved, Denhaag, Belanda, pada 1-11 September 2002.

Wayang Potehi Gudo dikembangkan oleh Tok Su Kwei, asal Coan-Ciu, Provinsi Fujian, China yang merantau ke Nusantara pada 1920-an. Dia memilih untuk tinggal di Desa Gudo, Jombang, Jawa Timur. Di tempat asalnya, Tok Su Kwei adalah dalang wayang potehi. Saat merantau, dia membawa semua alat perlengkapan pertunjukan yang dibutuhkan, lalu mendirikan grup wayang Potehi, yang diberi nama Fu He Han, yang artinya rezeki dan selamat.

Adapun Potehi berasal dari kata pou yang artinya kain, te atau kantong dan hi berarti wayang, sehingga bisa diartikan sebagai boneka wayang yang terbuat dari kain. Untuk memainkannya sang dalang memasukkan jari jarinya kedalam boneka yang menyerupaii kantong dan menggerakkan boneka wayang sesuai lakon dan iringan musik.

Pada penampilan perdana Wayang Potehi Gudo di Tong Tong Fair 2022, dengan lakon “Sun Go Kong”, dalangnya adalah Widodo, dibantu oleh Tonny Harsono, Ketua Kesenian Wayang Potehi, yang juga cucu dari Tok Su Kwei.

Lakon “Sun Go Kong” atau “Perjalanan ke Barat” tersebut dikisahkan dalam bahasa Jawa Timur-an diselingi kata-kata dalam bahasa Tionghoa.

Agar pengunjung Tong Tong mengerti jalan ceritanya, rencana awalnya adalah pembacaan cerita dalam bahasa Inggris sebelum pertunjukan wayang dimulai,

By Redaksi

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *